Brendan Greene Dukung Revolusi Anti-AI Gamer(Sumber:X/Eurogamer)
INDOZONE.ID - Brendan Greene atau yang lebih dikenal sebagai PlayerUnknown, otak di balik PUBG mengaku senang melihat gelombang penolakan gamer terhadap penggunaan AI generatif dalam pengembangan game.
Menurutnya, kritik tersebut menunjukkan bahwa komunitas masih menghargai karya yang dibuat langsung oleh manusia.
Dalam wawancara terbarunya, Greene menanggapi pertanyaan soal apakah studio barunya, PlayerUnknown Productions, memakai AI generatif untuk proyek ambisius mereka: teknologi world generation yang nantinya mampu membangun planet sebesar Bumi secara otomatis.
Jawabannya jelas, tidak memakai LLM sama sekali.
Baca juga: Brendan Greene Comeback! Siapkan Game FPS 100 vs 100 yang Bikin Gamer Heboh
Greene menjelaskan bahwa teknologi yang sedang mereka kembangkan dirancang untuk mempercepat pekerjaan seniman, bukan menggantikan mereka.
Ibarat orkestra, katanya, sistem ini memberi kebebasan bagi tim kreatif untuk mengatur musik, menentukan bentuk dunia, mengatur elemen, dan menghasilkan lingkungan yang kompleks dalam waktu singkat.
Justru itu sebabnya ia merasa lega melihat komunitas menolak game yang dibangun sepenuhnya oleh AI.
“Jika bukan dibuat oleh seniman, mereka tidak ingin melihatnya,” ujarnya, dan ia menganggap itu sebagai sinyal yang sangat positif.
Komentar Greene terasa makin menarik karena studionya masih memiliki hubungan dengan Krafton - perusahaan yang baru-baru ini jadi sorotan akibat menerapkan kebijakan AI-first dan membuka jalur pengunduran diri bagi karyawan yang tak sepakat.
Awalnya, PlayerUnknown Productions merupakan bagian dari proyek khusus Krafton pada 2019, sebelum Greene memutuskan keluar dan membangun studionya sendiri.
Meski begitu, Krafton tetap menjadi investor minoritas.
Namun Greene menegaskan bahwa sejak 2021, Krafton tidak ikut campur dalam strategi maupun pengembangan studio.
Baca juga: Brendan PlayerUnknown Greene Punya Rencana Gila: Membuat Ulang Internet dalam Bentuk 3D
Rencana besar PlayerUnknown Productions terdiri dari tiga game.
Game pertama - Prologue: Go Wayback! akan memasuki Early Access pada 20 November.
Ini adalah game survival yang menekankan mekanisme orientasi dan bertahan hidup di alam liar.
Yang menarik, dunia game dihasilkan secara unik hanya dalam hitungan menit setiap kali pemain memulai.
Game kedua akan kembali ke genre yang membuat Greene melegenda: shooter multiplayer.
Sementara game ketiga akan memperluas teknologi world generation tersebut hingga siap dibuka sebagai open-source agar developer lain bisa memakainya.
Meski dunia game sedang dibanjiri perdebatan soal AI, Greene memilih berdiri di sisi para seniman.
Dengan teknologi yang membantu, bukan menggantikan kreator, ia berharap dapat menghadirkan dunia game raksasa yang tetap punya sentuhan manusia di setiap sudutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net