Strategi Live-Service PlayStation Tersendat(Sumber:X/Eurogamer)
INDOZONE.ID - Sony akhirnya mengakui, strategi live-service PlayStation yang digembar-gemborkan sejak 2022 tidak berjalan mulus.
Hal ini diungkapkan langsung Lin Tao, Chief Financial Officer Sony, dalam sesi tanya jawab laporan keuangan terbaru perusahaan.
Tao juga menegaskan, pengembang Destiny, Bungie, akan kehilangan sebagian kemandiriannya dan semakin melebur ke dalam PlayStation Studios.
Di era kepemimpinan mantan bos PlayStation Jim Ryan pada 2022, Sony menetapkan target ambisius untuk merilis 12 game live-service sebelum 2026.
Banyak studio yang sebelumnya fokus membuat game single-player diarahkan ke pengembangan live-service.
Sony bahkan mendirikan studio baru yang berfokus pada format ini, dan mengakuisisi Bungie senilai $3,6 miliar.
Namun, sejak Ryan mundur pada 2023, tanda-tanda masalah mulai muncul.
Salah satu proyek besar seperti game multiplayer The Last of Us garapan Naughty Dog dibatalkan. Lalu disusul pembatalan Twisted Metal live-service, game live-service Spider-Man dari Insomniac, dan proyek multiplayer milik London Studio.
Kegagalan terbesar datang setelah flop-nya Concord tahun lalu.
Dampaknya, Sony melakukan PHK besar-besaran, menutup beberapa studio, dan membatalkan proyek lain — termasuk game God of War dari Bluepoint serta proyek rahasia dari Bend Studio.
Penundaan Marathon, game PvP terbaru Bungie, semakin memperburuk citra strategi ini.
Dalam penjelasannya, Lin Tao menyebutkan, transformasi menuju game live-service memang berjalan 'tidak sepenuhnya mulus'.
Meski begitu, ia menilai ada perkembangan jika dilihat dari lima tahun terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net