INDOZONE.ID - Siapa bilang teknologi AI cuma berguna buat pekerja kantoran atau programmer? Di Jepang, seorang petani bernama Hiroki Tomiyasu membuktikan kalo kecerdasan buatan bisa jadi asisten andalan di pertanian.
Menariknya, Tomiyasu bukan berasal dari keluarga petani. Ia bahkan memulai karier sebagai pegawai negeri dan sama sekali tidak punya latar belakang pertanian maupun teknik.
Semuanya berubah ketika ia ikut dalam proyek menghidupkan kembali lahan pertanian terbengkalai di Hokkaido, Jepang.
Dari situ, ia belajar sendiri cara mengoperasikan traktor, mengelola tanaman, hingga menjalankan pertanian skala besar.
Kini, Tomiyasu mengelola sekitar 100 hektare lahan yang ditanami brokoli, labu, daun bawang, dan kedelai.
Baca juga: 10 Cara Menghasilkan Uang dari AI untuk Pemula, Modal Laptop dan Internet!
Gunakan ChatGPT dan Codex untuk Bertani
Di tengah tantangan pertanian modern yang makin kompleks dan mahal, Tomiyasu memilih jalur berbeda.
Alih-alih membeli sistem otomatisasi mahal seperti yang biasa dipakai perusahaan agrikultur besar, ia memanfaatkan AI seperti ChatGPT dan OpenAI Codex untuk membuat solusi sendiri.
Dengan bantuan AI, ia berhasil membangun berbagai sistem yang langsung dipakai di lapangan, seperti:
- Sistem otomatis buka-tutup ventilasi rumah kaca berdasarkan suhu
- Pemantauan kesehatan tanaman menggunakan data satelit
- Diagram kelistrikan otomatis hanya dari foto panel listrik
- Platform manajemen pertanian yang menghubungkan jadwal kerja, sensor, material, hingga catatan harian petani
- Salah satu sistem yang paling menarik adalah kontrol rumah kaca lewat aplikasi chat di hp.
Jadi, ketika suhu terlalu panas, ventilasi bisa terbuka otomatis tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Sistem ini dibuat menggunakan perangkat murah seperti ESP32 dan layanan cloud sederhana.
Baca juga: Momen Wapres Gibran Bicara Tantangan AI Sambil Pangku Kucing: Kuasai Teknologinya, Pegang Etikanya!
Cerita Hiroki Tomiyasu bukan cuma soal petani yang memakai AI. Ini tentang bagaimana teknologi bisa membuka peluang bagi siapa saja untuk berinovasi, bahkan di bidang yang selama ini dianggap tradisional seperti pertanian.
Di saat banyak negara menghadapi krisis tenaga kerja pertanian dan perubahan iklim, pendekatan seperti ini bisa jadi gambaran masa depan, di mana pertanian yang lebih pintar, efisien, dan tetap terjangkau.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/mcn.id_, Interestingengineering.com