INDOZONE.ID - Serangan siber kini berkembang makin cepat, bahkan sudah memanfaatkan AI untuk melancarkan aksinya.
Kondisi ini membuat perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan sistem keamanan lama yang serba manual dan terbatas.
Di sisi lain, SOC berbasis AI mulai jadi solusi karena mampu menyaring ancaman sekaligus membuat operasional lebih efisien.
Lalu, seperti apa teknologi ai ini dan sektor mana saja yang paling rentan terdampak? berikut penjelasannya:
Perusahaan Harus Mulai Beralih ke SOC Berbasis AI, Ini Alasannya
Di tengah meningkatnya ancaman siber, perusahaan kini dianjurkan untuk mulai beralih ke sistem keamanan yang lebih canggih, salah satunya SOC berbasis AI.
Perubahan ini bukan tanpa alasan, karena pola serangan siber juga ikut berkembang seiring kemajuan teknologi.
“AI sekarang sudah jadi commodity, semua orang bisa pakai, termasuk pihak yang berniat jahat,” jelas Defi Nofitra selaku country manager Indonesia kasperky pada jumpa pers di Jakarta Pusat (8/4/26)
Ia menambahkan, ketika pelaku kejahatan siber mulai memanfaatkan AI untuk menyerang, perusahaan juga tidak punya pilihan selain mengimbanginya dengan teknologi yang sama.
Baca juga: Keren! Kini Ada Aplikasi Buatan Anak Bangsa untuk Lawan Ancaman Siber
Menurutnya, mengandalkan manusia saja sudah tidak cukup.
“Kalau AI lawan manusia itu nggak akan bisa nahan, karena manusia pasti punya batas, bisa capek. Sementara AI itu mesin yang bisa bekerja terus,” ujarnya.
Karena itu, perusahaan dituntut untuk terus beradaptasi, salah satunya dengan mengadopsi AI dalam SOC.
Hal ini menjadi langkah penting agar sistem keamanan tetap aman dan mampu menghadapi ancaman yang semakin kompleks.
Kontrubusi SOC Berbasis AI Bagi Perusahaan
Selain meningkatkan kemampuan deteksi ancaman, penggunaan AI dalam SOC juga membawa efisiensi yang signifikan bagi perusahaan.
Salah satu manfaat utamanya adalah kemampuan AI dalam menyaring ancaman secara otomatis.
“Kalau ada ancaman misalnya sampai 100 ribu per bulan, AI bisa menyortir mana yang benar-benar berbahaya dan mana yang tidak,” tambah Defi.
Dengan proses ini, tim keamanan tidak perlu lagi memeriksa semua data secara manual.
Hal ini membuat pekerjaan tim menjadi lebih fokus dan efektif.
Mereka hanya perlu menganalisis ancaman yang sangat berbahaya, sementara sisanya sudah difilter oleh sistem AI.
Selain itu, perusahaan tidak perlu merekrut terlalu banyak orang, cukup memaksimalkan tim yang ada dengan bantuan AIt.
Efisiensi ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga meningkatkan kecepatan respons terhadap ancaman.
Sektor Keuangan dan Pemerintahan Jadi Target Utama Serangan Siber
Dalam praktiknya, tidak semua sektor memiliki tingkat risiko yang sama terhadap serangan siber, karena ada beberapa industri yang justru menjadi target utama para pelaku kejahatan digital.
Baca juga: Ancaman Siber Terus Meningkat , Keamanan Endpoint Kini Beralih ke Teknologi AI!
Defi menjelaskan bahwa sektor keuangan termasuk yang paling rentan diserang, sebab motif utama serangan umumnya berkaitan dengan keuntungan ekonomi.
Menurutnya, sektor finansial menjadi sasaran karena di sanalah sumber uang berada, sehingga menarik bagi pelaku untuk melakukan serangan.
Selain itu, sektor pemerintahan juga tidak kalah rentan.
Namun alasannya berbeda, bukan hanya soal uang, tetapi juga soal eksposur dan dampak publik.
“Kadang hacker tidak butuh uang, tapi butuh exposure. Misalnya bisa meretas website instansi, itu sudah jadi kebanggaan tersendiri,” ujarnya.
Dampaknya pun bisa sangat luas. Ketika layanan publik terganggu, efeknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Oleh karena itu, kedua sektor ini perlu memperkuat sistem keamanan mereka, termasuk dengan memanfaatkan SOC berbasis AI agar lebih siap menghadapi ancaman di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan