Kamis, 18 SEPTEMBER 2025 • 14:47 WIB

OpenAI Lagi Siapkan Fitur Baru Biar ChatGPT Lebih Aman Buat Remaja

Author

Ilustrasi ChatGPT. (REUTERS/Dado Ruvic)

INDOZONE.ID - Kalau ngomongin AI, nama ChatGPT pasti selalu nongol di daftar atas. Mulai dari dipakai buat ngerjain PR, nulis ide cerita, sampai sekadar ngobrol santai, banyak remaja yang udah jadi pengguna setia. 

Nah, masalahnya, nggak semua isi internet cocok buat anak di bawah umur. Di sinilah OpenAI mulai turun tangan.

Baru-baru ini, Sam Altman, si bos OpenAI, ngumumin fitur-fitur baru yang tujuannya simpel: bikin ChatGPT lebih aman kalau dipakai anak muda. 

Jadi nggak cuma pinter jawab, tapi juga punya “rem” biar nggak sembarangan ngasih konten.

Baca juga: Korika Luncurkan KChat, Chatbot AI dengan Visi Kedaulatan Digital

ChatGPT Bisa Ngebaca Umur?

Salah satu hal yang paling bikin heboh adalah sistem prediksi umur. Jadi, ChatGPT bakal coba “nebak” apakah yang lagi ngobrol masih di bawah 18 tahun atau sudah dewasa. 

Kalau ketahuan masih remaja, otomatis bakal diarahkan ke versi ChatGPT yang lebih aman.

Versi aman ini intinya ngeblokir hal-hal sensitif, terutama konten seksual eksplisit. 

Jadi nggak ada lagi cerita remaja ketemu jawaban random yang bikin orang tua kaget pas liat history obrolan. 

Bisa dibilang, ChatGPT sekarang belajar jadi lebih “bijak” kalau ngobrol sama anak-anak.

Baca juga: Studio yang Didukung Amazon Hidupkan Kembali Film Hilang Orson Welles dengan Teknologi AI

Selain soal konten, OpenAI juga ngasih perhatian ke hal yang lebih serius: kesehatan mental. 

Kalau sistem ChatGPT nangkep ada tanda-tanda pengguna lagi kepikiran soal bunuh diri atau menyakiti diri, AI ini bisa langsung kasih peringatan ke orang tua.

Kalau orang tua nggak bisa dihubungi, dan keadaannya bener-bener darurat, sistem bahkan bisa nelpon pihak berwenang. Memang agak ekstrem, tapi tujuannya jelas: nyelametin nyawa.

Baca juga: Riset Terbaru: Bahaya Google Gemini bagi Anak Potensi Terjerumus Narkoba dan Dampak Negatif Lain

Antara Melindungi dan Mengawasi

Meski niatnya baik, fitur ini otomatis bikin perdebatan. Orang tua mungkin merasa lebih tenang, karena tahu ada semacam “satpam digital” yang ngawasin anak mereka. 

Tapi dari sisi remaja, bisa jadi rasanya kayak privasi mereka diganggu.

Coba bayangin lagi curhat ke ChatGPT tentang masalah pribadi, eh tiba-tiba obrolannya bisa sampai ke orang tua atau bahkan polisi. 

Nggak semua anak bakal nyaman dengan itu, kan? Nah, di sinilah garis tipisnya: gimana caranya melindungi tanpa bikin remaja merasa terus diawasi.

Baca juga: OpenAI Hadirkan Critterz, Film Animasi AI Pertama yang Siap Tayang di Cannes

Jalan Panjang Buat OpenAI

OpenAI sendiri sadar kalau langkah ini bukan tanpa risiko. Mereka harus pintar-pintar nyari keseimbangan: gimana biar aman, tapi nggak terlalu kaku. 

Makanya, fitur ini katanya bakal terus dipantau dan disesuaikan berdasarkan masukan dari orang tua, guru, bahkan komunitas tech.

Kalau berhasil, fitur ini bisa jadi standar baru buat aplikasi AI lain. Tapi kalau salah langkah, bisa aja remaja merasa ChatGPT “kurang asik” dan pindah ke platform lain yang malah lebih berbahaya.

Fitur keamanan buat remaja di ChatGPT ini jelas jadi gebrakan besar dari OpenAI. 

Mulai dari sistem prediksi umur, filter konten, sampai langkah darurat kalau ada tanda bahaya, semuanya dirancang buat bikin pengalaman ngobrol lebih aman.

Baca juga: Geoffrey Hinton, "Bapak AI” yang Tak Menyangka ChatGPT Jadi Alat Putus Cinta

Tapi, apakah ini cukup bikin remaja ngerasa nyaman? Atau justru bikin mereka merasa selalu diawasi? Jawabannya mungkin beda-beda, tergantung siapa yang ditanya. 

Yang jelas, OpenAI lagi berusaha keras biar AI bukan cuma pinter, tapi juga peduli sama penggunanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wired.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU