INDOZONE.ID - OpenAI baru saja meluncurkan GPT-5, versi terbaru chatbot AI mereka yang diklaim jauh lebih pintar dari sebelumnya. Sam Altman, CEO OpenAI, bahkan bilang kemampuan GPT-5 sebanding dengan "ahli bergelar PhD" di berbagai bidang—mulai dari menulis, coding, sampai berpikir kritis.
Dalam acara peluncuran Kamis lalu, Altman menggambarkan GPT-5 sebagai sesuatu yang "dulu nggak kebayang bisa ada." Katanya, kalau GPT-3 itu kayak ngobrol sama anak SMA, GPT-4 kayak mahasiswa, nah GPT-5 ini rasanya kayak diskusi sama pakar beneran.
Baca juga: Google Sindir Apple soal AI Siri yang Tertunda Jelang Rilis Pixel 10
Lebih Cepat, Lebih Akurat, Lebih Jujur
GPT-5 disebut punya banyak peningkatan: lebih cepat, lebih minim kesalahan (halusinasi), dan lebih jelas dalam menjelaskan cara berpikirnya. Buat yang suka coding, GPT-5 bisa jadi asisten andal—bahkan diklaim bisa bikin software utuh dari nol.
Tapi OpenAI nggak sendirian soal klaim AI super pintar. Elon Musk juga pernah bilang Grok, chatbot buatannya, lebih pinter dari PhD. Persaingan antar perusahaan AI pun makin panas.
Tetap Ada yang Meragukan
Meski klaimnya mentereng, beberapa ahli tetap ngasih warning. Profesor Carissa Véliz bilang, AI seperti GPT-5 cuma bisa meniru, bukan benar-benar paham seperti manusia. Ia juga curiga ada hype berlebihan di industri AI.
Gaia Marcus dari Ada Lovelace Institute ingatkan soal pentingnya regulasi ketat, apalagi teknologi AI berkembang sangat cepat.
Baca juga: Tren Terbaru ChatGPT: Menulis Obituari Jadi Bisnis Baru yang Mengganggu
ChatGPT Sekarang Lebih "Bijak"
Barengan dengan rilis GPT-5, OpenAI juga ubah cara ChatGPT jawab pertanyaan sensitif kayak "Harus putus sama pacar nggak ya?". Sekarang, ChatGPT nggak kasih jawaban pasti, tapi bantu pengguna berpikir dengan ngasih pro-kontra.
Menurut Altman, ini dilakukan biar pengguna nggak terlalu terikat secara emosional sama AI. "Masalah pasti ada, tapi manfaatnya juga besar," ujarnya.
Drama di Balik Layar
Sebelum peluncuran, sempat ada kabar perusahaan saingan, Anthropic, blokir akses API buat OpenAI. Mereka tuduh OpenAI pakai tools coding mereka nggak sesuai aturan. OpenAI bilang langkah itu "disayangkan", tapi mereka tetap buka akses buat Anthropic.
Isu lain yang muncul adalah soal hak kreator yang karyanya dipakai buat latih AI. Grant Farhall dari Getty Images nagih transparansi: "Kita harus tahu gimana AI ini dilatih dan pastikan kreator dibayar adil."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC