Minggu, 29 MARET 2026 • 19:00 WIB

Mencari Kerja di Era AI: Tips Memanfaatkan Teknologi Tanpa Jadi Korban "Omongan Robot"

Author

Ilustrasi cv. (freepik)

INDOZONE.ID - Mencari kerja saat ini terasa lebih sulit dibanding sebelumnya. Pasar kerja untuk posisi kantoran sedang lesu. Para ekonom menyebut kondisi ini sebagai “low-hire, low-fire”, yakni perusahaan cenderung mempertahankan karyawan lama, sementara perekrutan baru berjalan lambat.

Teknologi juga turut mengubah proses perekrutan. Sistem otomatis memang memudahkan pelamar mengirim lamaran ke banyak perusahaan, tetapi di sisi lain membuat lamaran semakin sulit menonjol. Data dari platform perekrutan Greenhouse menunjukkan, rata-rata perekrut kini harus menyaring 3,5 kali lebih banyak lamaran dibandingkan beberapa tahun lalu.

Meski begitu, kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi pencari kerja untuk bersaing. Namun, penggunaannya perlu dilakukan secara bijak.

AI untuk Membangun CV: Jangan Asal Tempel

AI dapat membantu menyusun ulang CV dan surat lamaran. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan AI yang seragam justru bisa membuat lamaran terlihat mirip satu sama lain.

“AI berisiko membuat materi lamaran Anda terlihat sama dengan pelamar lain,” ujar Daniel Zhao, ekonom utama di Glassdoor. “Sebagai perekrut, saya sering melihat lamaran yang jelas dibuat dengan AI, sehingga sulit menonjol.”

Sebagai solusi, gunakan AI untuk memperdalam pendekatan personal terhadap perusahaan yang dituju. CEO Greenhouse, Daniel Chait, menyarankan agar pelamar memanfaatkan AI untuk menganalisis laporan perusahaan atau deskripsi pekerjaan, sehingga CV dan surat lamaran bisa lebih relevan.

Baca juga: 5 Rekomendasi Website Sertifikasi buat Penunjang CV yang Kamu Harus Tau

Mitos Kata Kunci Rahasia

Sebagian pelamar percaya ada trik tertentu agar CV lolos sistem otomatis, seperti menyisipkan kata kunci tersembunyi dengan warna putih.

Namun, Chait menegaskan bahwa sistem modern sudah tidak lagi menggunakan metode tersebut.

“Tidak ada kata kunci rahasia yang bisa menjamin lolos. Itu hanya membuang waktu,” katanya.

Lebih dari Sekadar CV

CV memang penting, tetapi tidak cukup. Manajer produk LinkedIn, Pat Whelan, menilai pencari kerja perlu menunjukkan kemampuan lain, termasuk keterampilan menggunakan AI.

LinkedIn bahkan telah bekerja sama dengan sejumlah platform untuk memberikan sertifikasi keterampilan AI kepada pengguna. Namun, Zhao menilai yang lebih penting adalah kemampuan dasar dalam memahami manfaat, risiko, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

“Fokus pada pemahaman dan adaptasi jauh lebih penting daripada sekadar sertifikasi,” ujarnya.

Cek Aturan Penggunaan AI

Sejumlah perusahaan kini mulai mengatur penggunaan AI dalam proses rekrutmen. Perusahaan seperti Target, SAP, hingga Zscaler telah menetapkan batasan yang jelas.

Penggunaan AI umumnya diperbolehkan untuk membantu format resume, menjelaskan konsep teknis, atau brainstorming. Namun, penggunaan untuk memalsukan keterampilan, pengalaman, atau menjawab tes dinilai melanggar aturan.

Zscaler menegaskan bahwa proses seleksi harus mencerminkan kemampuan asli pelamar.

AI untuk Persiapan Wawancara

AI juga bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan wawancara. Pelamar dapat menggunakan AI untuk mencari informasi tentang perusahaan, industri, hingga simulasi pertanyaan wawancara.

Namun, penggunaan AI saat wawancara berlangsung, seperti membaca jawaban dari layar, justru dapat merugikan pelamar.

“Anda tidak bisa menipu pewawancara. Itu biasanya terlihat jelas,” ujar Chait.

Tren Wawancara Berbasis AI

Ke depan, semakin banyak perusahaan diperkirakan menggunakan AI untuk tahap awal wawancara, baik melalui chat, audio, maupun video.

Meski masih dalam tahap awal, tren ini dinilai akan berkembang pesat karena dinilai lebih efisien dan objektif.

Baca juga: 6 Situs Membuat CV Online Menarik dan Gratis

Waspada Penipuan Lowongan Kerja

Di sisi lain, penggunaan AI juga meningkatkan risiko penipuan lowongan kerja. Pelamar diminta lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan yang mencurigakan, terutama yang dikirim melalui pesan atau email.

Para ahli menyarankan untuk selalu memverifikasi lowongan melalui situs resmi perusahaan atau platform terpercaya.

Jika tidak berhati-hati, pelamar bisa terjebak penipuan yang meminta data pribadi atau informasi keuangan dengan dalih proses rekrutmen.

Selain itu, perusahaan juga semakin ketat dalam proses verifikasi identitas pelamar, terutama untuk pekerjaan jarak jauh. LinkedIn bahkan menyediakan fitur verifikasi melalui identitas resmi atau email kerja guna memastikan keaslian kandidat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Apnews.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU