INDOZONE.ID - Second Account atau akun ke-dua di media sosial merupakan hal yang terbilang wajib dimiliki oleh para anak muda. Di dalam secound account, biasanya seseorang dapat lebih bebas berekspresi menjadi diri sendiri.
Namun menurut Psikolog, jika ada orang yang memiliki second account di media sosialnya, kemungkinan besar ia menjadi lebih rentan terkena depresi dan dapat memicu perilaku toxic.
Baca Juga: 5 Aplikasi Lihat Instagram Story Anonim 2025, Bisa Stalking Tanpa Ketahuan!
Damar Anggiafitri Yulissusanti, SPsi, MPsi, Psikolog Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), menyampaikan bahwa biasanya orang yang memiliki second account merupakan orang yang tidak percaya diri. Sebab, ia hanya merasa aman jika menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya ke beberapa orang tertenu.
“Pastinya ada banyak pertimbangan-pertimbangan, salah satunya ingin memiliki image yang beda. Sifat asli mereka kalem, tapi ketika ingin image-nya beda makanya dia bikin akun lain supaya dia lebih bebas mengekspresikan dirinya,” jelas Anggi.
Kebanyakan orang juga biasanya akan mengunggah berbagai hal yang dirasa menyenangkan dan bahagia. Namun sayangnya, tidak semua pihak akan senang melihat postingan seperti itu.
Ada saja orang yang akhirnya membandingkan semua yang terlihat di media sosial dengan kehidupannya, sampai merasa iri dan dengki di kehidupan nyata. Terlebih, Fear of Missing Out (FOMO) atau takut tertinggal tren juga semakin memperparah kestabilan mental seseorang dalam menggunakan media sosial.
Dari perasaan itulah disebutkan Anggi dapat memperbesar kesempatan orang merasa sedih hingga depresi dan berakhir berperilaku toxic.
Baca Juga: Meta Uji Mulai Coba Community Notes di Facebook, Instagram, dan Threads: Apa Gunanya?
Jika seseorang sudah sampai tahap perilaku toxic, kemungkinan akan menganggu pengguna sosial media lainnya dengan menghujat atau mengirim pesan spam.
Berdasarkan survei dari salah satu majalah di Indonesia, disebutkan bahwa sebanyak 46 persen remaja memiliki second account pada Instagram. Survei tersebut melibatkan sekitar 300 responden yang diambil secara acak.
Penulis: Sekar Andini Wibisono Putri
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinus.ac.id