Jumat, 04 OKTOBER 2024 • 17:38 WIB

Mobil Tanpa Sopir "Robotaxi" di China: Solusi Transportasi Masa Depan atau Ancaman bagi Pengemudi Taksi?

Author

Mobil tanpa sopir di China. (Taipeitimes)

INDOZONE.ID - Mobil (otonom) tanpa sopir bernama "robotaxi" yang sudah banyak berkeliaran di kota-kota besar China menarik perhatian terutama wisatawan asing.

Mobil "masa depan" ini secara masif diproduksi oleh Perusahaan teknologi dan produsen kendaraan China dengan menggelontorkan miliaran dolar dalam beberapa tahun terakhir dalam upaya mengejar pemimpin industri di Amerika Serikat.

Salah satu kota di China yang menjadi rumah dalam penyebaran dan pemakaian mobil otonom adalah Kota Wuhan, bagian China Tengah, dengan lebih dari 500 taksi yang dapat dipesan melalui aplikasi layanan yang mirip seperti layanan biasanya.

Wartawan AFP (Perusahaan Media Prancis) melihat setidaknya lima "robotaxi" melintas dan saling berpapasan di tengah lalu lintas biasa pada salah satu persimpangan di kawasan industri Wuhan.

Baca Juga: Jepang Uji Coba Mobil Terbang Berawak Pertamanya, Ada yang Mau Nebeng?

Seorang warga bermarga Yang memuji hal tersebut dengan mengatakan mobil tanpa sopir seperti sihir di film fiksi ilmiah.

Namun tidak semua orang mengungkapkan kekagumannya. Sejak terjadinya kecelakaan pada bulan April ketika mobil Aito yang didukung oleh Huawei, dengan sistem operasi sama seperti "robotaxi" terlibat dalam kecelakaan fatal, perusahaan mengakui bahwa sistem pengereman otomatisnya gagal berfungsi.

Selain itu, sebuah tabrakan kecil antara pejalan kaki dan sebuah robotaxi di Wuhan bulan Juli lalu kembali memicu kekhawatiran.

Para pengemudi taksi dan pekerja di perusahaan traditional ride-hailing juga menyuarakan kekhawatiran akan digantikan oleh kecerdasan buatan, meskipun teknologi tersebut masih banyak kekurangannya.

Taksi tanpa pengemudi di Wuhan merupakan bagian dari proyek Apollo Go milik raksasa teknologi Baidu, yang pertama kali memperoleh izin untuk beroperasi di kota tersebut pada tahun 2022. Awalnya, hanya ada lima mobil otonom yang mengangkut penumpang di area seluas 13 km² di kota berpenduduk sekitar 14 juta jiwa itu.

Baca Juga: Jepang Pimpin Perkembangan 6G: Koneksi Internet Super Cepat di Masa Depan

Baidu mengatakan bahwa taksi-taksi tersebut sekarang beroperasi di lebih dari sepertiga daerah Kota Wuhan, termasuk sebagain kecil pusat kota.

Sebagai perbandingan, pemimpin industri di Amerika Serikat, Waymo, menyatakan bahwa area terluas yang mereka layani adalah 816 km² di Arizona.

Saat mobil tiba di titik penjemputan, penumpang memindai kode QR dengan ponsel mereka untuk membuka pintu. Sementara akses kursi depan diblokir untuk alasan keamanan.

Tarif mobil otonom ini terbilang lebih murah dibandingkan dengan taksi biasa. Perjalanan selama 30 menit hanya dibanderol seharga 39 Yuan (86 ribu rupiah) dengan harga taksi biasa sebesar (141 ribu rupiah).

Pengemudi taksi Wuhan, Deng Haibing, menyatakan ketidaksukaan dan kekhawatirannya terhadap robotaxi yang akan memaksa pengemudi tradisional gulung tikar dengan tarif yang disubsidi, lalu menaikkan harga begitu mereka mendominasi pasar. Deng juga berkata saat ini dampak tersebut belum terlalu besar karena belum sepenuhnya populer dan bisa dipakai dimana-mana.

Menurut analis teknologi, Tom Nunlist, teknologi mobil otonom masih belum siap untuk diterapkan secara luas. Meskipun taksi Apollo Go di Wuhan sudah mampu mendeteksi rintangan, tanggung jawab keselamatan tetap berada di tangan petugas manusia yang memantau dari jarak jauh.

Selain itu, robotaxi belum mampu menggantikan peran manusia, terutama dalam membantu penumpang dengan disabilitas atau yang membawa barang besar.

Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Taipeitimes

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU