Senin, 22 DESEMBER 2025 • 14:08 WIB

Cerita Pejuang Sinyal Bangkitkan Komunikasi di Aceh Pascabencana

Author

Warga mencari sinyal telekomunikasi di daerah bencana hidrometeorologi, Negeri Antara, Bener Meriah, Aceh. (Antara Foto/Irwansyah Putra/tom)

INDOZONE.ID - Lumpur setinggi betis masih mengurung kaki menara base transceiver station (BTS) di Meredeu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Jalur lintas Sumatra Pidie–Bireuen porak-poranda. Di sana, dua teknisi memanggul genset kecil, berjalan ratusan meter di tanah becek.

Asmir dan Rizky Jefina paham betul, genset yang mereka bawa bukan sekadar mesin. Itu adalah harapan. Harapan agar sinyal kembali menyala di tengah Bencana Sumatra yang memutus komunikasi warga.

“Baru hari ini bisa dinyalakan dengan power genset karena aliran listrik masih padam di sini,” ujar Asmir dikutip dari laman indonesia.go.id, Senin (22/12/2025).

BTS Berlumpur dan Jalur Terputus

Menara BTS itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari jalan utama. Namun lumpur sisa banjir besar membuat akses nyaris mustahil.

Sejak hari pertama bencana di Aceh akhir November 2025, jaringan telekomunikasi terputus di banyak titik. Jembatan ambruk, kabel serat optik (FO) putus, gardu listrik mati.

Baca juga: Ayo Sama-Sama Bantu Saling Dukung Pulihkan Sumatra

Asmir dan Rizky bersama tim teknisi operator nasional bekerja tanpa jam pasti. Mereka keluar-masuk wilayah terdampak untuk memetakan kerusakan satu per satu.

“Kita bolak-balik, Pak, monitor daerah terdampak. Mana yang bisa diakses, mana yang nggak, perangkat rusak atau tidak, masalah PLN di mana. Dari hari pertama jembatan putus, kita cek FO yang putus dan lainnya,” jelas Asmir.

Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Telkomsel mengirimkan 100 unit genset, 500 unit telepon genggam, 50 unit baterai dan 50 unit rectifier untuk mempercepat pemulihan komunikasi warga yang terdampak bencana Sumatra. (Antara Goto/Fakhri Hermansyah/nym)

Baca juga: TNI AL Kirim Dua Ton Logistik ke Korban Banjir Takengon Aceh

Lebih dari Sekadar Pekerjaan Teknis

Bagi para teknisi, memulihkan sinyal bukan hanya soal jaringan. Ini tentang kemanusiaan.

Tanpa komunikasi, bantuan sulit bergerak. Keluarga tak bisa saling memberi kabar. Laporan kondisi lapangan terhenti.

Di titik inilah perjuangan mereka jadi krusial, meski jarang terlihat publik.

Wamenkomdigi Turun ke Lokasi

Perjuangan itu disaksikan langsung Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. Ia meninjau langsung pemulihan telekomunikasi dari Pidie hingga Bireuen.

Sejak Kamis pagi, rombongan Wamenkomdigi bergerak dari Banda Aceh ke wilayah timur. Turut mendampingi Tenaga Ahli Kemenkomdigi Donny BU, Kepala Balmon Banda Aceh Luthfi, BNPB, BPBD Aceh, BAKTI, dan perwakilan operator seluler.

Bencana Sumatra dan Starlink yang Menyeberang Jembatan Roboh
Rombongan berhenti di Kecamatan Juli, Bireuen. Di sana, jembatan penghubung ke Kabupaten Bener Meriah terputus separuh.

“Jembatan kokoh ini bahkan terputus separuh. Bener Meriah terisolasi. Kita berikan satu unit Starlink kepada relawan TIK untuk kebutuhan komunikasi warga,” ujar Nezar Patria.

Karena kendaraan tak bisa lewat, warga membangun dua jalur kabel gantung darurat. Starlink dan genset dikirim menggunakan keranjang yang meluncur di atas kabel.

Relawan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bersama seorang keuchik membawa perangkat itu menembus wilayah terisolasi. Pemandangan yang sederhana, tapi penuh makna.

Bantuan di Tengah Krisis Komunikasi

Sebelumnya, Nezar juga mengunjungi Posko Darurat Relawan TIK di Gampong Reudeup, Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya. Ia menyerahkan satu unit genset dan satu unit Starlink kepada warga.

“Kami berterima kasih Bapak Wakil Menteri Komdigi telah datang ke Pidie Jaya. Ini pejabat pertama yang menengok kami, sekaligus menyerahkan Starlink karena sangat kami butuhkan,” ujar Maimun, Relawan TIK Aceh.

Menurutnya, jaringan seluler masih terganggu dan sejumlah wilayah masih terisolasi.

Kolaborasi Pulihkan Jaringan di Aceh

Pemulihan telekomunikasi di Aceh didorong kolaborasi banyak pihak. Operator seluler, BAKTI Kemenkomdigi, Relawan TIK, PLN, hingga Pertamina terlibat langsung.

BAKTI, misalnya, telah membuka access point satelit di sejumlah titik kritis. Salah satunya di Aceh Tamiang.

“Aceh Tamiang sudah dibuatkan access point satelit oleh BAKTI. Ini sangat membantu para pengungsi untuk berkomunikasi dengan keluarga,” kata Nezar.

Menjaga Indonesia Tetap Terhubung

Selama di Aceh, Wamenkomdigi menyalurkan 10 unit Starlink dan 5 genset ke pemerintah daerah, Kodim, dan relawan TIK. Bantuan ini jadi solusi sementara sebelum BTS pulih sepenuhnya.

Namun di balik data bantuan dan peta pemulihan jaringan, ada sosok seperti Asmir dan Rizky. Mereka memanggul genset di tengah lumpur, menembus daerah mati sinyal.

Dari BTS berlumpur di Meredeu hingga kabel darurat di jembatan Juli, kisah ini bukan sekadar tentang teknologi. Ini cerita tentang orang-orang yang menjaga Indonesia tetap terhubung, bahkan saat Bencana Sumatra menguji segalanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesia.go.id

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU