INDOZONE.ID - Saat mau upgrade penyimpanan laptop atau PC, banyak orang masih bertanya-tanya: SSD lebih awet atau HDD?
Ada yang bilang SSD cepat rusak karena punya batas tulis. Tapi ada juga yang bilang justru SSD lebih tahan lama karena nggak punya komponen bergerak.
Biar nggak salah kaprah, yuk kita bahas tuntas soal daya tahan SSD dibandingkan HDD, mulai dari umur pakai, teknologi penyimpanan, sampai mitos yang sering beredar.
Baca juga: Lexar Perkenalkan Air Portable SSD, Solusi Penyimpanan Cepat dan Portabel
HDD menggunakan piringan magnetik yang berputar dan head mekanis untuk membaca serta menulis data. Karena ada bagian yang bergerak, HDD lebih rentan terhadap:
SSD menggunakan chip memori flash (NAND) tanpa komponen bergerak. Data disimpan secara elektronik, bukan magnetik. Artinya:
HDD biasanya memiliki rata-rata umur pakai sekitar 3–5 tahun, tergantung penggunaan. Kerusakan umumnya terjadi karena:
SSD tidak punya komponen mekanis, tapi memiliki batas siklus tulis. Setiap sel memori NAND hanya bisa ditulis ulang dalam jumlah tertentu.
Di sinilah muncul istilah: TBW (Terabytes Written), yaitu total data yang bisa ditulis ke SSD sebelum dianggap mencapai batas daya tahan.
Contoh: SSD 500GB bisa punya rating 300 TBW
Artinya kamu bisa menulis 300TB data sebelum melewati batas garansi pabrikan.
Kabar baiknya? Untuk penggunaan normal (kerja, browsing, gaming ringan), rata-rata orang butuh bertahun-tahun untuk mencapai batas TBW tersebut.
Baca juga: Mini SSD Biwin: Teknologi Penyimpanan Super Cepat yang Bisa Geser microSD di Nintendo Switch
Beberapa faktor penting yang menentukan daya tahan SSD:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dell.com