Sabtu, 29 NOVEMBER 2025 • 19:35 WIB

Sutradara The Witcher 3: Game yang Dibuat Murni oleh AI Tidak Akan Punya Jiwa

Author

The Witcher 3(Sumber:X/Eurogamer) 

INDOZONE.ID - Konrad Tomaszkiewicz, sutradara The Witcher 3, Cyberpunk 2077, dan kini The Blood of Dawnwalker kembali angkat suara soal penggunaan AI dalam industri game. D

alam wawancara terbaru, ia menjelaskan bahwa studionya memang memakai AI, tapi hanya sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.

Baca juga: Kisah Sukses Phasmophobia: Hampir Gagal, Diselamatkan oleh Inspirasi dari The Witcher 3

AI Dipakai untuk Tes Dialog, Bukan Menggantikan Aktor

Tomaszkiewicz menjelaskan bahwa timnya menggunakan AI sebagai pengisi suara sementara selama proses pengujian. Tujuannya sederhana: mendengar dialog secara langsung membuat proses iterasi cerita jadi lebih cepat.

Setelah naskah dianggap solid dan siap, barulah mereka memakai aktor profesional untuk merekam versi final. Menurutnya, ini adalah penggunaan AI yang masuk akal - efisien, tapi tetap menghormati peran manusia.

AI Harus Membantu, Bukan Mengambil Alih

Meski tidak anti-AI, Tomaszkiewicz menegaskan bahwa teknologi ini seharusnya digunakan untuk membantu pekerjaan teknis, bukan menggantikan kreator.

Ia memberi contoh: tim QA saat ini sedang mengecek celah dan pertemuan mesh di dunia game - pekerjaan yang idealnya bisa diotomatisasi.

Buatnya, waktu manusia lebih berharga untuk hal yang membutuhkan rasa:
evaluasi gameplay, cerita, emosi, dan nuansa kreativitas.

Kekhawatiran Soal AI yang Belajar dari Karya Orang

Sutradara ini juga mengungkap kegelisahan banyak kreator: AI yang memproduksi karya visual atau animasi dari hasil belajar karya orang lain tanpa izin.

Ia berharap AI berkembang menjadi alat seperti Google Translate - praktis dan membantu, bukan sesuatu yang mencuri hak cipta dan karya para kreator.

Game Buatan AI Tidak Akan Punya Jiwa

Menurut Tomaszkiewicz, inti dari game yang menyentuh pemain selalu datang dari api kreativitas manusia - keinginan bercerita, pengalaman hidup, emosi, dan sensitivitas yang tidak bisa ditiru mesin.

Ia bahkan menyebut game favoritnya tahun ini, Dispatch, sebagai contoh karya yang mustahil diciptakan AI: penuh nuansa, maksud, dan jiwa yang datang dari manusia.

Tentang Blood of the Dawnwalker

The Blood of Dawnwalker, proyek terbarunya di Rebel Wolves adalah RPG baru yang mengikuti kisah Coen, seorang manusia setengah vampir yang punya 30 hari untuk menyelamatkan keluarganya.

Tanpa main quest utama, pemain bebas menentukan arah cerita dan eksplorasi dunia. Game ini dijadwalkan rilis tahun depan untuk PC, PS5, dan Xbox Series X/S.

Konrad Tomaszkiewicz bukan menolak AI, tapi percaya teknologi ini harus menjadi alat pendukung, bukan pengganti kreativitas manusia.

Dalam pandangannya, game hanya bisa benar-benar hidup ketika dibuat oleh manusia yang punya tujuan, emosi, dan pengalaman.

AI bisa membantu proses produksi, tapi tidak bisa menciptakan jiwa yang membuat sebuah game benar-benar berkesan.

Baca juga: CD Projekt Fokus ke Cyberpunk 2077 di Switch 2, Gimana Nasib The Witcher 3?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Eurogamer.net

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU