Kamis, 02 OKTOBER 2025 • 12:28 WIB

Menekraf: Free Fire Sarana Promosi Memperkenalkan Batik Kepada Gamers di Dunia

Author

Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia Teuku Riefky Harsya. (Indozone/Dewi)

INDOZONE.ID - Ada yang istimewa di perayaan Hari Batik Nasional tahun ini. Desain batik Indonesia hadir dalam dunia game populer Free Fire, sebuah langkah inovatif yang disambut penuh kebanggaan oleh Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia Teuku Riefky Harsya.

Dalam momen istimewa ini, Founder Guru Batik Dheni Nugroho, berhasil menciptakan motif batik yang diaplikasikan ke dalam skin karakter Free Fire. Tak hanya itu, motif tersebut juga digunakan untuk merchandise resmi berupa kaos batik Free Fire, yang langsung mencuri perhatian publik.

“Hal ini tentu merupakan kebanggaan, karena hari ini 2 Oktober bertepatan dengan Hari Batik Nasional, game Free Fire menjadi sarana promosi untuk memperkenalkan batik kepada kalangan gamers Free Fire di dunia,” ujar Menekraf Teuku Rifqy dengan penuh semangat dalam acara Press Conference: Kolaborasi Kreatif bersama Kementerian Ekonomi Kreatif Menyambut FFWS Global Finals 2025 di Jakarta. 

Baca juga: Garena Youth Championship 2025 Free Fire Digelar untuk Pelajar, Berhadiah Beasiswa Rp21 Miliar

Batik Masuk Dunia Gaming Global

Bukan tanpa alasan langkah ini dianggap monumental. Free Fire, game battle royale besutan Garena, telah diunduh lebih dari 1 miliar kali dengan lebih dari 250 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. 

Dengan basis pemain sebesar itu, promosi batik melalui game ini menjadi strategi brilian untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia ke generasi muda global.

“Batik sebagai warisan budaya yang telah diakui UNESCO, kini juga dapat dikenal dan digunakan pada karakter di dalam game Free Fire,” tambah sang Menteri.

Baca juga: Emote Pacu Jalur Hadir di Gameplay Free Fire

Apresiasi untuk Kreativitas Anak Bangsa

Kolaborasi ini tentu tak lepas dari kreativitas anak muda Indonesia. Dheni Nugroho dinilai sukses menghadirkan desain batik yang tetap otentik, namun modern dan sesuai dengan gaya visual para gamers.

Langkah ini membuktikan bahwa batik bisa beradaptasi dengan zaman, masuk ke ranah digital, dan tetap relevan bagi generasi milenial hingga Gen Z. 

Tak heran, kolaborasi antara budaya tradisional dan dunia gaming ini mendapat tepuk tangan meriah dari berbagai pihak. Gimana menurut kamu?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU