Review Awal The Rogue Prince of Persia: Parkour yang Memukau, tapi Masih Terlalu Mirip Dead Cells?
INDOZONE.ID - Setelah setahun berada di fase early access di Steam, The Rogue Prince of Persia akhirnya resmi rilis versi 1.0 untuk PC, Xbox, dan PlayStation.
Game ini juga langsung tersedia di Game Pass serta PlayStation Plus, dengan versi Switch 2 dijadwalkan hadir akhir tahun ini.
Sebagai seri legendaris yang sudah eksis sejak 1989, Prince of Persia selalu dikenal dengan satu hal utama: pergerakan yang fluid dan penuh gaya.
Dan meskipun kini tampil dalam format roguelike dengan sentuhan modern, game garapan Evil Empire ini tetap berhasil membawa identitas klasik sang Pangeran.
Baca juga: Review Metal Gear Solid Delta: Snake Eater, Mengulang Kisah Klasik dengan Sensasi Baru
Warisan Prince of Persia Tetap Hidup
Sejak debutnya di era rotoscoped hingga lompat ke dunia 3D, Prince of Persia selalu berevolusi. Kini lewat The Rogue Prince of Persia, kamu kembali menjelajahi dunia samping (side-scrolling) dengan nuansa roguelike penuh aksi.
Game ini menempatkan kamu di kota Persia bernama Ctesiphon, dengan misi menggulingkan Nogai the Hun dan pasukannya.
Dari sisi gameplay, kamu akan menjelajahi level yang tersusun secara prosedural, mengumpulkan upgrade permanen, memilih senjata sementara, hingga mencoba keberuntungan di setiap run.
Kalau kalah? Ya, seperti roguelike pada umumnya, kamu kembali mulai dari awal sambil membawa sedikit peningkatan untuk mencoba lagi.
Terlalu Dekat dengan Dead Cells?
Tidak bisa dipungkiri, Evil Empire adalah tim yang sebelumnya dikenal karena mendukung Dead Cells dengan banyak konten tambahan.
Maka wajar jika nuansa Dead Cells sangat terasa di sini, mulai dari sistem progresi, fast-travel interface, hingga loop permainan yang mirip.
Bedanya, kalau Dead Cells tampil dengan dunia fantasi gelap, The Rogue Prince of Persia justru menampilkan latar Persia penuh warna, dengan perpaduan seni 3D foreground dan 2D background yang kental nuansa komik ala Moebius.
Animasi sang Pangeran juga sangat detail, bahkan saat sekadar melompat masuk ke portal fast-travel, membuat dunia terasa hidup.
Movement Jadi Nilai Jual Utama
Hal yang paling memikat dari The Rogue Prince of Persia adalah kontrol gerakan yang luwes. Dari wall run, pole jump, hingga combo parkour lainnya, semuanya terasa mulus dan intuitif hanya dengan beberapa tombol.
Kecepatan gameplay menciptakan ritme tersendiri. Kamu bisa berlari, melompat, menebas, lalu langsung melakukan akrobat lanjutan tanpa jeda.
Lebih keren lagi, jika timing parkour kamu tepat, kecepatan dan kelincahan Prince meningkat, sehingga traversal semakin memuaskan. Sistem gerakan ini juga terintegrasi dengan combat.
Lawan bisa dihadapi dengan serangan jarak dekat maupun jauh, tapi sensasi paling seru datang ketika parkour kamu menyatu dengan pertempuran misalnya menebas musuh lalu langsung melompat ke dinding untuk menghindari serangan berikutnya.
Visual dan Presentasi yang Menawan
Selain gameplay, aspek visual juga jadi kekuatan utama. Setiap biome punya detail memukau, animasi halus, dan gaya seni yang unik. Walaupun desain Prince sempat diubah dari versi ungu ikonik menjadi tampilan lebih konvensional, game ini tetap memanjakan mata.
Beberapa jam pertama memainkan The Rogue Prince of Persia memberi kesan campur aduk. Di satu sisi, movement yang mulus dan penuh gaya membuat game ini terasa luar biasa memuaskan.
Namun di sisi lain, bayangan Dead Cells terasa terlalu kuat, sehingga membuatnya tampak kurang orisinal. Harapannya, semakin jauh kamu bermain, semakin banyak elemen unik yang muncul sehingga bisa benar-benar berdiri sebagai Prince of Persia versi roguelike yang segar.
Untuk saat ini, balletic carnage alias aksi akrobatik penuh keindahan adalah alasan utama untuk terus menjajalnya. Jadi, apakah kamu sudah siap mencoba The Rogue Prince of Persia? Atau menurutmu game ini terlalu mirip Dead Cells?
Baca juga: Review Remaster Heretic + Hexen: Perjalanan Nostalgia FPS Klasik yang Penuh Kejutan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net