INDOZONE.ID - Hari ini, Kane & Lynch 2: Dog Days resmi berusia 15 tahun.
Meski sudah satu setengah dekade berlalu sejak perilisannya, game ini masih sering disebut sebagai salah satu game paling suram, brutal, dan penuh kekacauan—namun tetap dipandang sebagai karya unik yang sulit ditandingi hingga sekarang.
Sekilas, mungkin kamu menganggap Kane & Lynch 2 hanyalah sekadar shooter third-person khas era Xbox 360.
Apalagi, game pertamanya dulu lebih diingat karena kontroversi media dibanding kualitas gameplay.
Tapi sekuelnya menghadirkan sesuatu yang berbeda—lebih berani, lebih jujur, dan lebih meninggalkan kesan.
Baca juga: Masih Jadi Idola, Pemain Game Civilization 6 Lebih Banyak Dibanding Civilization 7
Gaya Presentasi yang Mengganggu, Tapi Jenius
Yang membuat Kane & Lynch 2 benar-benar istimewa adalah presentasinya.
Kamera dalam game ini bergetar liar seolah dipegang oleh seseorang yang ketakutan di tengah baku tembak.
Visualnya pun dibuat seakan direkam lewat kamera usang atau rekaman bajakan, lengkap dengan flare cahaya neon dan distorsi ketika terjadi ledakan.
Bahkan, kekerasan ekstrem dalam game tidak ditampilkan secara detail, melainkan disensor dengan efek pixelated.
Namun justru karena itu, imajinasi kamu mengisi kekosongan dengan cara yang lebih kejam daripada grafis realistis.
Sensasi ini membuat Dog Days terasa seperti film horor underground yang dilarang edar.
Pengalaman Bermain yang Tidak Membuatmu Merasa Hebat
Berbeda dengan game sejenis di era itu seperti Gears of War atau Stranglehold, kamu tidak akan merasa seperti pahlawan badass saat memainkan Kane & Lynch 2.
Sebaliknya, game ini membuatmu merasa kotor, gelisah, dan tidak nyaman.
Kamu akan mendapati gameplay penuh darah, suara yang sesekali hilang, kamera berguncang, hingga senjata yang sering terasa tidak akurat.
Semua ini bukan sekadar gimmick, melainkan bagian dari cerita—bahwa Kane dan Lynch hanyalah dua kriminal kacau yang terjebak dalam spiral kekerasan tanpa akhir.
Panjang yang Tepat untuk Siksaan Emosional
Dog Days hanya berdurasi sekitar empat jam, jauh lebih singkat dibanding shooter lain pada masanya.
Namun panjang ini terasa pas.
Lebih lama sedikit saja, mungkin rasa mencekik dan suramnya akan terlalu berlebihan. Kane & Lynch 2 dirancang untuk memberi pengalaman intens, seperti menonton dua film thriller brutal dalam satu malam.
Dari Dibenci Jadi Kultus
Ketika dirilis pada 2010, game ini menuai banyak kritik.
Beberapa media besar memberi skor rendah, bahkan sempat dibandingkan buruk dengan Army of Two: The 40th Day.
Namun kini, Army of Two sudah hampir dilupakan, sedangkan Kane & Lynch 2 justru dikenang sebagai cult classic oleh sebagian gamer yang menyukai sisi kelamnya.
Komentar Keras Tentang Kekerasan dalam Game
Kane & Lynch 2 bukan sekadar shooter berdarah-darah.
Game ini menyajikan kritik terhadap glorifikasi kekerasan dalam video game.
Kalau Nathan Drake atau Marcus Fenix dipuja sebagai pahlawan meski membunuh ratusan musuh, Kane dan Lynch ditampilkan sebagai manusia busuk, kriminal tanpa sisi heroik sedikit pun.
Dalam hal ini, Dog Days bisa disejajarkan dengan Spec Ops: The Line—dua game yang tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga refleksi atas sisi gelap medium video game itu sendiri.
Warisan Kane & Lynch 2
Membuat game yang begitu brutal, suram, dan penuh siksaan emosional adalah pilihan berani dari IO Interactive.
Studio yang dikenal lewat Hitman dan kini menggarap game James Bond itu menunjukkan kemampuan menciptakan sesuatu yang benar-benar berbeda.
Kane & Lynch 2 bukan game untuk semua orang.
Tapi untuk kamu yang berani menelusuri kegelapan tanpa kompromi, Dog Days tetap berdiri sebagai salah satu game paling berani, kontroversial, dan jenius sepanjang sejarah.
Baca juga: Dead Space Terbaru Rilis Awal Tahun, Gunner Wright Masih Jadi Dubber
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net, Eurogamer.net