Resident Evil Requiem(Sumber:X/Eurogamer)
INDOZONE.ID - Proyek Resident Evil Requiem ternyata punya sejarah yang jauh lebih panjang dan rumit daripada yang terlihat.
Produser Masato Kumazawa mengungkap bahwa game ini awalnya dirancang sebagai multiplayer open-world.
Tim sebenarnya sudah membuat versi awal yang cukup seru untuk dimainkan, tetapi ada satu masalah besar: unsur horornya terlalu ringan.
Untuk sebuah seri yang dikenal dengan ketegangan dan atmosfer mencekam, versi itu terasa terlalu aman.
Dari sinilah keputusan besar lahir—Requiem harus kembali ke akar, menjadi game single-player survival horror.
Meskipun Capcom membuang konsep multiplayer secara keseluruhan, Kumazawa mengakui bahwa masih ada beberapa elemen dari versi itu yang dipertahankan.
Ia tidak mau menjelaskan apa dan bagaimana detailnya, bahkan ketika diwawancarai lebih dalam, ia hanya tertawa dan menolak menjawab.
Yang jelas, ada sesuatu dari build multiplayer tersebut yang menurut tim terlalu menyenangkan untuk dihilangkan begitu saja.
Menurut Kumazawa, fans Resident Evil menginginkan pengalaman yang membuat mereka benar-benar takut.
Bukan sekadar monster baru atau karakter lama dalam tampilan berbeda.
Itulah sebabnya pendekatan mereka kali ini bukan menempelkan skin baru, melainkan menghadirkan elemen yang membuat Requiem terasa seperti survival horror segar.
Tim ingin memastikan game ini tidak menjadi repetitif, dan tetap memberikan kejutan yang membuat pemain tegang sejak awal.
Fakta menarik lainnya adalah Requiem ternyata sudah mulai dikembangkan jauh sebelum Resident Evil Village dirilis. Ini memperjelas arah tim: mereka ingin mengembalikan nuansa horor yang lebih gelap dan intens.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net