INDOZONE.ID - Boring Phone adalah ponsel lipat terbaru tanpa fitur yang menarik bagi kaum muda yang ingin meninggalkan ponsel pintar mereka. Mereka kini beralih ke ponsel tanpa teknologi canggih.
Model terbaru ini adalah hasil kolaborasi antara Heineken dan pengecer mode Bodega. Ponsel ini pun menjadi sorotan saat diperkenalkan di Pekan Desain Milan, pada April silam, hingga mendapat pujian dari desainer terkemuka.
Boring Phone adalah bagian dari fenomena baru dalam ponsel pintar, yang muncul dari ketidakpercayaan Gen Z terhadap teknologi pengumpul data dan perhatian yang mereka gunakan sejak kecil.
Ketidakpercayaan ini telah memicu kebangkitan barang-barang budaya retro dari fenomena yang dikenal sebagai Newtro. Ini terlihat pada kebangkitan piringan hitam, kaset, fanzine, gim video 8 bit, dan ponsel klasik.
Baca Juga: Peluncuran Samsung Galaxy F14 4G: Spesifikasi, Harga, dan Ketersediaan
"Saya selalu merasa tertekan harus selalu tersedia untuk semua orang," ungkap Rana Ali.
Mantan pekerja keuangan berusia 29 tahun ini, yang kini berprofesi sebagai produser musik dan rapper dengan nama Surya Sen, menambahkan, "Ada anggapan bahwa jika Anda mengirim pesan WhatsApp kepada seseorang dan mereka tidak merespons dengan cepat, berarti ada masalah. Saya pernah menggunakan ponsel pintar, tetapi saya selalu kembali ke ponsel konvensional."
Nostalgia terhadap Nokia 3310, ponsel "bata" dengan daya tahan baterai yang luar biasa, mendorong peluncurannya kembali pada 2017.
Namun, kebangkitan sebenarnya dimulai di Amerika Serikat tahun lalu, didorong secara ironis oleh pengguna TikTok yang mengunggah dengan tagar #bringbackflipphones.
HMD, yang bertanggung jawab atas peluncuran kembali Nokia, melaporkan peningkatan penjualan ponsel lipatnya dua kali lipat pada April 2023.
Sementara Punkt, yang lebih suka menyebut produknya sebagai ponsel fitur atau ponsel minimalis, juga mengalami lonjakan penjualan yang signifikan.
Namun, menurut Mintel, Apple, dan Samsung masih aman dari ancaman tersebut.
Joe Birch, analis teknologi di perusahaan riset itu, menyatakan sembilan dari sepuluh ponsel yang ada adalah ponsel pintar, sedangkan ponsel tanpa fitur tetap jarang ditemukan.
"Meski demikian, ada indikasi bahwa generasi saat ini mulai mengubah pola pikir mereka mengenai ponsel pintar. Kekhawatiran tentang dampak negatif dari konektivitas digital yang terus-menerus menjadi salah satu faktor pendorongnya," tambah Birch.
Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Google Circle to Search, Fitur Baru yang Mengubah Cara Pencarian Visual
Sebanyak tiga dari lima orang dari Gen Z mengungkapkan, keinginan untuk mengurangi keterhubungan mereka dengan dunia digital.
Generasi muda saat ini juga makin peduli dengan privasi, menurut analis teknologi dari Portulans Institute.
Mereka melihat internet lebih sebagai alat pengawasan yang digunakan oleh merek, pemerintah, dan penipu, ketimbang sebagai tempat untuk mengejar minat dan menemukan orang-orang yang menarik.
Teknologi lama menawarkan kebebasan lebih. Ambil contoh, dalam musik hip-hop dan dance, penggunaan sampel sangat sulit untuk artis baru karena algoritma di platform, seperti Spotify atau YouTube, dapat mendeteksi dan mencegah unggahan jika sampel belum dihapus.
Namun, artis independen bisa dengan mudah memproduksi dan menjual 500 EP vinil langsung kepada DJ dan penggemar tanpa hambatan yang berarti.
Penulis: Nadya Mayangsari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Theguardian.com