Ilustrasi bom nuklir. (REUTERS/Handout)
Hal yang paling ditakutkan saat ini adalah terjadinya perang nukir antara Amerika Serikat (AS), Rusia, dan para sekutunya. Pasalnya, sebanyak 5 miliar manusia atau 63 persen populasi Bumi akan mati.
Para peneliti memprediksi, perang nuklir yang terjadi akan menciptakan kebakaran luas, di mana bisa mengeluarkan 165 juta ton jelaga ke atmosfer Bumi.
Alhasil, jelaga itu akan berefek pada anjloknya kapasitas panen di AS dan Rusia yang merupakan pengekspor makanan. Tak sampai di situ, produksi kalori global menurun drastis sampai 90 persen.
Studi yang dilakukan jurnal Nature Food ini merupakan penelitian terbaru dalam empat dekade yang menggambarkan bagaimana krusialnya dampak perang nuklir.
Baca Juga: Biar Makin Kekinian, YouTube Hadirkan Halaman Baru Khusus Podcast
Diketahui, Rusia punya 5.977 hulu ledak nuklir, Amerika Serikat 5.428, sehingga totalnya ada 12.705 hulu ledak nuklir.
Di peringkat ketiga ada China dengan 350 hulu ledak, kemudian disusul India dengan 160 hulu ledak, Pakistan 165 hulu ledak.
"Perang nuklir skala penuh berpotensi memicu perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia," kata rekan penulis studi Alan Robock, seorang profesor ilmu iklim di University of Rutgers di New Jersey, dikutip dari Live Science, Selasa (23/8/2022).
"Dalam perang nuklir AS-Rusia, lebih banyak orang akan mati karena kelaparan di India dan Pakistan dibandingkan negara-negara yang benar-benar berperang," sambungnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: