INDOZONE.ID - Pernah gak, sebagai orang tua, kamu merasa khawatir saat anak remaja mulai aktif menggunakan media sosial?
Di satu sisi, dunia digital bisa menjadi ruang untuk belajar, berekspresi, dan terhubung dengan banyak hal positif.
Namun di sisi lain, ada risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari paparan konten yang belum sesuai usia, hingga penggunaan layar yang berlebihan.
Kekhawatiran inilah yang kemudian mendorong Meta mengeluarkan fitur akun remajanya
Lantas, seperti apa fitur ini dan bagaimana cara kerjanya? Berikut penjelasan lengkapnya:
Meta Perkuat Akun Remaja agar Anak Aman, Orang Tua Lebih Tenang
Meta menegaskan kembali komitmennya untuk menciptakan pengalaman digital yang lebih aman dan sesuai usia bagi remaja.
Momentum ini dinilai penting karena keluarga, terutama orang tua, semakin membutuhkan dukungan dalam mendampingi anak saat menggunakan media sosial.
Lebih dari itu, mereka meyakini perlindungan remaja di ruang digital tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua.
Baca juga: Meta dan Google Penuhi Panggilan Kemkomdigi Terkait Dugaan Pelanggaran Perlindungan Anak
Melainkan platform juga perlu ikut menyediakan sistem yang membantu anak tetap aman, sekaligus membuat orang tua merasa lebih percaya diri saat mendampingi mereka.
“Di Meta kami percaya bahwa remaja harus mendapatkan pengalaaman yang sesuai umurnya sekaligus kami ingin membantu orang tua untuk merasa lebih tenang saat remaja menggunakan media sosialnya melalui pengalaman online yang lebih aman dan sesuai usia,” kata Berni Moestafa selaku Kepala Kebijakan Publik Meta di Indonesia dalam acara Meta Indonesia Perkenalkan Pengaturan Konten 13+ untuk Akun Remaja di Jakarta selatan (22/06/26)
Oleh karena itu, Meta menghadirkan pengaturan akun remaja yang dirancang untuk menjawab tiga kekhawatiran utama orang tua, yaitu kontak yang tidak diinginkan, paparan konten yang tidak sesuai, serta durasi penggunaan media sosial.
Melalui fitur ini, akun remaja secara otomatis mendapatkan perlindungan bawaan dengan pengaturan yang lebih ketat.
Beberapa fitur yang disiapkan antara lain akun privat secara default, pembatasan kontak dari orang yang tidak dikenal, pengingat batas waktu penggunaan, mode tenang pada malam hari, hingga fitur pengawasan orang tua.
Remaja di bawah usia 16 tahun juga membutuhkan izin orang tua apabila ingin mengubah pengaturan menjadi lebih longgar.
Fitur Konten 13+ dan Limited Content Jadi Upaya Baru Lindungi Remaja
Tidak berhenti pada fitur perlindungan dasar, Meta juga memperbarui Akun Remaja dengan pendekatan baru berbasis rating usia.
Melalui pembaruan ini, remaja akan diarahkan untuk melihat konten yang lebih sesuai dengan usianya, dimulai dari Instagram.
“Secara default, remaja hanya akan melihat konten-konten yang sesuai usia,” tambahnya.
Pendekatan ini dibuat agar orang tua lebih mudah memahami standar konten yang ditampilkan kepada anak, karena sistemnya dibuat menyerupai rating film yang sudah familiar bagi banyak keluarga.
Pengaturan konten usia 13 tahun ke atas ini diterapkan di berbagai fitur Instagram, mulai dari feed, stories, rekomendasi, pencarian, komentar, DM, hingga pengalaman lainnya di platform.
Baca juga: Menkomdigi Meutya Hafid Sidak Kantor Meta di Jakarta, Soroti Maraknya Konten Judol dan Disinformasi
Dengan begitu, perlindungan tidak hanya muncul di satu bagian aplikasi, tetapi menyebar ke berbagai ruang interaksi yang sering digunakan remaja.
Namun, Meta juga menyadari bahwa setiap keluarga punya standar berbeda soal konten yang dianggap aman untuk anak.
Oleh karena itu, Instagram turut menghadirkan pengaturan yang lebih ketat bernama Limited Content yang berfungsi menyaring lebih banyak konten dalam pengalaman Akun Remaja.
Fitur ini juga membatasi remaja dalam melihat, meninggalkan, maupun menerima komentar pada sebuah unggahan.
Tujuannya bukan hanya mengurangi paparan konten yang kurang sesuai, tetapi juga membantu menciptakan ruang interaksi yang lebih sehat bagi remaja.
Di sisi lain, Meta menekankan bahwa tidak ada sistem yang sempurna.
Oleh Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah, organisasi perlindungan anak, pendidik, komunitas parenting, dan orang tua tetap menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan