INDOZONE.ID - Tahun 2025 menjadi momen reflektif bagi Kenneth Shepard, bukan hanya sebagai penulis game, tetapi juga sebagai pemain yang perlahan menemukan kembali rasa cintanya terhadap medium ini setelah melewati periode kelelahan emosional dan kekecewaan terhadap industri.
Baca juga: Game Multiplayer Terbaik 2025 yang Paling Seru Dimainkan Bersama
Game-Game yang Membantu Menemukan Kembali “Spark” Bermain
Sepanjang 2025, Shepard merasa dirinya kembali menikmati game dengan cara yang lebih jujur dan personal, di mana setiap judul yang masuk daftar ini memiliki kontribusi emosional yang berbeda, mulai dari horor psikologis, RPG penuh duka, hingga petualangan yang menumbuhkan rasa memiliki.
Dead Take berada di posisi sepuluh dengan horor escape room yang memotret sisi gelap industri kreatif, sementara Split Fiction di peringkat sembilan menonjol berkat desain co-op platforming yang ambisius meski ceritanya terasa naif, dan Goodnight Universe di posisi delapan tetap menyentuh lewat eksplorasi hubungan keluarga meski tak setajam pendahulunya, Before Your Eyes.
Lost Records: Bloom & Rage menempati peringkat tujuh dengan pendekatan nostalgia dan trauma masa remaja yang terasa sangat manusiawi, sedangkan Digimon Story: Time Stranger di posisi enam menegaskan kekuatan ikatan emosional pemain dengan monster favorit yang menemani perjalanan dari awal hingga akhir.
Eksperimen Berani dan Emosi yang Menghantam Keras
Masuk lima besar, Fretless – The Wrath of Riffson menawarkan kombinasi unik antara rhythm game dan deck-building yang membangkitkan kembali memori bermusik, sementara Shuten Order di posisi empat memukau lewat struktur lima rute misteri yang saling melengkapi dan penuh kejutan khas Too Kyo Games.
Clair Obscur: Expedition 33 duduk di peringkat tiga sebagai RPG penuh duka dan keputusasaan, dengan sistem pertarungan berbasis timing yang menuntut refleks sekaligus strategi, serta narasi tentang kehilangan yang tidak pernah mencoba memberi jawaban sederhana atas rasa sedih.
Pokémon dan Rasa Memiliki Sebuah Kota
Di posisi kedua, Pokémon Legends: Z-A menjadi pengalaman yang sangat personal bagi Shepard, karena fokusnya pada Lumiose City dan komunitasnya menciptakan rasa rumah dan kebersamaan yang jarang ia rasakan dalam game Pokémon sebelumnya.
Pertarungan real-time, Mega Evolution yang akhirnya kembali relevan, serta cerita tentang manusia dan Pokémon yang berjuang hidup berdampingan membuat game ini terasa lebih intim, seolah kamu tidak sekadar menjelajahi wilayah, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kota dan orang-orang di dalamnya.
Game Terbaik 2025: Ambisi Tanpa Kompromi
Puncaknya adalah The Hundred Line: Last Defense Academy, game paling ambisius tahun ini dengan lebih dari 100 kemungkinan ending, yang membuat Shepard takjub sekaligus gentar untuk kembali menyelaminya sepenuhnya.
Dengan narasi ekstrem, pilihan yang brutal, dan tema eksistensial khas Kazutaka Kodaka, game ini bukan hanya menantang pemain secara mekanik, tetapi juga secara mental dan emosional, hingga akhirnya pantas disebut sebagai game yang paling beresonansi di tahun 2025.
Baca juga: Game Nintendo Switch 2 Terbaik 2025 yang Wajib Kamu Mainkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kotaku