INDOZONE.ID - Tahun 2025 menjadi periode paling kelam bagi Destiny 2, sebuah fase di mana game ini nyaris kehilangan identitas dan basis pemainnya, sehingga membuat kamu sebagai Guardian lama maupun baru mempertanyakan apakah perjalanan di dunia sci-fi Bungie masih layak untuk dilanjutkan.
Baca juga: Fimbulwinter Stitch Destiny 2 Jadi Incaran Dawning, Ini God Roll Terbaik dan Cara Dapetinnya
Ketergantungan Berlebihan pada Portal
Salah satu masalah terbesar Destiny 2 di 2025 adalah dominasi Portal sebagai satu-satunya jalur progresi yang benar-benar berarti, sehingga aktivitas di luar menu tersebut terasa sia-sia bagi kamu yang ingin meningkatkan Power dan mendapatkan gear berkualitas.
Portal sebenarnya bukan ide buruk, namun ketika seluruh semesta Destiny 2 dipersempit menjadi daftar aktivitas ala layanan streaming, pengalaman bermain terasa kaku, membosankan, dan jauh dari rasa eksplorasi bebas yang dulu menjadi kekuatan utama game ini.
Kebutuhan Akan Gear, Aktivitas, dan Destinasi
Renegades membuktikan bahwa Destiny 2 masih memiliki kehidupan di luar Portal, terutama lewat kehadiran Lawless Frontier yang memberi variasi dan kesegaran dalam petualangan kamu di Tata Surya.
Ke depan, Bungie perlu berani menghadirkan kembali loot lama dari raid dan dungeon klasik, bahkan jika itu berarti reissue, karena senjata dan armor yang relevan lintas tier akan memberi alasan kuat bagi kamu untuk mengulang konten lama tanpa rasa terpaksa.
Kosmetik yang Bisa Dibuka Lewat Gameplay
Langkah Bungie menghadirkan lebih banyak kosmetik yang bisa didapatkan melalui aktivitas in-game menjadi salah satu keputusan paling positif dalam beberapa tahun terakhir, terutama lewat Iridescent Engrams dan reward unik di event tertentu.
Bagi kamu, sistem ini terasa memuaskan karena setiap sesi bermain memiliki potensi hadiah nyata, bukan sekadar duplikasi item yang tidak pernah digunakan dan hanya memenuhi inventaris tanpa makna.
Masalah Greed dan Monetisasi
Eververse memang sudah lama menjadi bagian dari Destiny 2, namun The Edge of Fate membuat monetisasi terasa terlalu agresif, seolah Bungie lebih fokus memeras waktu dan uang pemain daripada membangun hubungan jangka panjang.
Kasus armor Gladius yang dipindahkan dari Iron Banner ke toko premium menjadi simbol rusaknya kepercayaan, dan meski beberapa kebijakan grind telah diperbaiki, luka di komunitas belum sepenuhnya sembuh.
Membangun Kembali Kepercayaan Komunitas
Hubungan Bungie dan komunitas di 2025 terasa tegang, karena banyak masalah besar dibiarkan terlalu lama tanpa respons memadai, hingga membuat kamu merasa suara pemain hanya menjadi formalitas.
Renegades memang membawa optimisme, namun tanpa komunikasi terbuka dan respons cepat terhadap feedback, momentum positif ini berisiko kembali hilang seperti sebelumnya.
Fokus di Luar Gameplay Semata
Perbaikan Destiny 2 tidak hanya soal sistem senjata atau ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana Bungie membuat kamu ingin menekan tombol “Play” tanpa rasa ragu atau lelah mental.
Tahun 2026 harus menjadi momen di mana Bungie memberi lebih banyak insentif, kemurahan hati, dan kejelasan arah, sehingga Destiny 2 kembali dimainkan karena keinginan, bukan kewajiban.
Baca juga: God Roll Conspiracy Honed Destiny 2 dan Cara Mendapatkannya dengan Maksimal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Destructoid.com