Penulis Silent Hill f Akui Takut pada Perempuan, Justru Jadi Alasan Utama Game Ini Menghormati Mereka
INDOZONE.ID - Silent Hill f menghadirkan pendekatan horor psikologis yang sangat berbeda, dan menurut penulisnya, Ryukishi07, perbedaan itu lahir dari rasa takut, kagum, sekaligus hormat yang mendalam terhadap perempuan.
Baca juga: Silent Hill 2 Remake di Xbox Series X/S: Contoh Remake yang Tepat dan Menghormati Aslinya
Filosofi Horor Ryukishi07 yang Berakar dari Rasa Takut
Dalam wawancara bersama GamesRadar+, Ryukishi07 menjelaskan bahwa ketakutannya terhadap perempuan bukanlah sesuatu yang negatif, melainkan bentuk pengakuan akan kekuatan dan misteri yang tidak bisa sepenuhnya dipahami.
Ia menyebut bahwa bagi banyak pria, perempuan mampu memunculkan emosi yang saling bertentangan, mulai dari rasa sayang hingga ketakutan yang mendalam, dan justru di situlah horor psikologis menemukan pijakannya.
Perempuan sebagai Sumber Drama dalam Horor Jepang
Menurut Ryukishi07, horor Jepang sering menempatkan perempuan sebagai pusat cerita karena keberadaan mereka mampu memicu konflik emosional yang rumit dan sarat makna.
Ia percaya bahwa dinamika ini membuat perempuan menjadi medium yang sangat kuat untuk menyampaikan ketakutan eksistensial, trauma sosial, dan tekanan budaya yang terpendam.
Silent Hill f dan Potret Kelam Feminitas
Berlatar Jepang era 1960-an, Silent Hill f menampilkan standar sosial terhadap “perempuan ideal” sebagai bentuk horor kosmik yang menghantui dunia game tersebut.
Musuh-musuhnya mencerminkan tekanan tersebut, mulai dari tumor kehamilan yang melahirkan bayi pembunuh hingga figur pengantin putih yang menyebarkan kabut seperti wabah.
Hinako dan Kekerasan sebagai Jalan Bertahan Hidup
Tokoh utama Silent Hill f, Hinako, digambarkan sebagai sosok lembut yang justru dipaksa bertahan hidup dengan cara brutal, termasuk membunuh demi keluar dari mimpi buruk yang menelannya.
Kontras ini memperkuat pesan bahwa sistem sosial yang menekan perempuan bisa berubah menjadi teror nyata ketika tidak pernah dipertanyakan.
Takut, Kagum, dan Terpesona Sekaligus
Ryukishi07 mengakui bahwa perasaannya terhadap perempuan adalah campuran antara rasa hormat, kekaguman, ketertarikan, dan ketakutan yang tidak pernah hilang.
Ia bahkan menyebut bahwa tidak satu pun cerita horor yang ia tulis dapat diselesaikan tanpa kehadiran perempuan sebagai inti emosionalnya.
Horor sebagai Bentuk Doa dan Penghormatan
Bagi Ryukishi07, menulis horor tentang perempuan bukanlah eksploitasi, melainkan bentuk penghormatan tertinggi yang bisa ia berikan.
Ia memandang horor sebagai ritual, hampir seperti doa, yang lahir dari kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan tidak akan pernah sepenuhnya saling memahami.
Mengakui Ketidakpahaman sebagai Bentuk Respek.
Ryukishi07 menegaskan bahwa mengklaim bisa sepenuhnya memahami perempuan adalah sikap yang arogan dan berbahaya.
Baginya, saling menghormati berarti menerima bahwa kesalahpahaman akan selalu ada, dan justru di sanalah kemanusiaan bertumbuh.
Perempuan sebagai Jantung Silent Hill F
Pendekatan inilah yang membuat Silent Hill f terasa lebih personal, gelap, dan emosional dibandingkan seri sebelumnya.
Game ini tidak hanya ingin menakuti kamu, tetapi juga mengajak kamu merenungkan bagaimana ketakutan, budaya, dan gender saling terjalin dalam horor.
Baca juga: Silent Hill 2 Remake Akhirnya Siap Hadir di Xbox Series X/S!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gamesradar