INDOZONE.ID - Isu penggunaan kecerdasan buatan kembali memicu perdebatan di industri game. Kali ini, menyeret nama besar Larian Studios yang dikenal lewat Baldur’s Gate 3.
Baca juga: Rayakan Ulang Tahun ke-2, Baldur’s Gate 3 Ungkap Statistik Pemain yang Aneh tapi Nyata
Awal Mula Kontroversi
Kontroversi bermula dari wawancara Swen Vincke bersama Bloomberg yang menyebut Larian cukup aktif mendorong penggunaan generative AI.
Pernyataan tersebut memicu kemarahan warganet yang khawatir AI akan menggantikan para concept artist di balik visual game Larian.
Menanggapi hal ini, Vincke menegaskan bahwa perusahaannya memiliki 72 seniman, termasuk 23 concept artist, dan jumlah tersebut justru terus bertambah.
Ia juga menyatakan bahwa seluruh karya seni yang masuk ke game tetap dibuat secara orisinal oleh tim internal.
Fungsi AI dalam Tahap Awal Kreatif
Menurut Vincke, AI hanya dimanfaatkan pada tahap ideasi awal untuk mencari referensi visual dan komposisi kasar.
Penggunaannya disamakan dengan mencari inspirasi lewat Google atau membaca buku seni sebagai bahan eksplorasi konsep.
Hasil dari AI tersebut tidak pernah langsung digunakan, melainkan digantikan sepenuhnya oleh konsep orisinal buatan seniman Larian.
Dengan pendekatan ini, AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.
Fenomena AI di Industri Game Modern
Kasus Larian bukanlah satu-satunya, karena beberapa studio besar juga menghadapi kritik serupa terkait penggunaan AI.
Call of Duty: Black Ops 7 sempat menuai kecaman akibat dugaan penggunaan AI pada desain kosmetik dalam game.
Activision sendiri menegaskan bahwa AI hanya berfungsi mendukung tim kreatif, bukan mengambil alih proses penciptaan.
Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI mulai menjadi standar baru dalam pengembangan game modern.
Baca juga: Baldur’s Gate 3 Diduga Akan Jadi Game Xbox Play Anywhere: Kabar Baik untuk Pengguna ROG Ally X!
Masa Depan AI dan Kreativitas
Penggunaan AI dalam industri kreatif tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Selama teknologi ini membantu pekerjaan teknis tanpa menghilangkan peran manusia, keberadaannya masih bisa diterima.
Namun, kekhawatiran tetap muncul jika AI mulai menggantikan kreativitas inti yang seharusnya dikerjakan oleh manusia.
Di sinilah batas etika dan regulasi menjadi isu penting yang belum sepenuhnya terjawab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Destructoid.com