Rabu, 19 NOVEMBER 2025 • 19:48 WIB

Anggota Kongres AS Ikut Menentang Penggunaan AI di Call of Duty: Black Ops 7

Author

Call of Duty: Black Ops 7(Sumber:X/Eurogamer)

INDOZONE.ID - Kontroversi penggunaan AI di Call of Duty: Black Ops 7 semakin melebar.

Setelah para pemain dan komunitas gaming ramai-ramai mengkritik calling card dan elemen visual yang diduga dibuat dengan AI generatif, kini isu tersebut mulai menarik perhatian pemerintah Amerika Serikat.

Bahkan, anggota Kongres AS Ro Khanna secara terbuka mengecam praktik tersebut dan menyerukan perlunya regulasi AI yang lebih ketat.

Baca juga: Embark Studios Tak Takut Rilis Arc Raiders di Tengah Gempuran Call of Duty dan Battlefield

Kritik Tajam dari Kongres AS

Ro Khanna, seorang anggota Kongres yang memang dikenal vokal soal regulasi teknologi, merespons sebuah unggahan viral tentang calling card Black Ops 7.

Ia menyoroti bagaimana penggunaan AI berpotensi mengancam pekerjaan para artis dan kreator di industri game.

Menurut Khanna, AI harus diatur agar tidak digunakan semata-mata untuk memotong biaya dan meningkatkan profit perusahaan.

Ia menegaskan bahwa para pekerja kreatif harus memiliki suara dalam bagaimana AI diterapkan, serta mendapatkan bagian dari keuntungan yang dihasilkan.

Bahkan, Khanna menyebut perlunya pajak untuk displacement massal apabila AI mengambil alih pekerjaan dalam skala besar.

Respons Dari Activision: “Kami Hanya Menggunakan Berbagai Alat Digital”

Menanggapi pertanyaan publik, Activision akhirnya merilis pernyataan resmi.

Mereka mengakui bahwa AI memang digunakan sebagai bagian dari proses kreatif, namun menegaskan bahwa tim manusia tetap memimpin seluruh proses pembuatan game.

Pernyataan ini belum sepenuhnya meredam kontroversi.

Pasalnya, banyak pemain menganggap hasil visual di Black Ops 7 tampak terlalu jelas dibuat dengan image generator, terutama pada calling card tertentu.

Hal ini menimbulkan kesan bahwa penggunaan AI lebih intensif dibandingkan yang diakui pihak studio.

Industri Game Memang Sedang Beralih ke AI

Kontroversi Black Ops 7 bukanlah kasus tunggal.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI generatif semakin umum di industri game.

Square Enix secara terbuka menyatakan rencananya mengganti hingga 70% pekerjaan QA dengan AI.

Di Jepang, survei Tokyo Game Show mengungkap lebih dari separuh developer sudah memakai AI dalam workflow mereka.

Sementara itu, perusahaan besar seperti Embracer dan Microsoft juga mendorong pemanfaatan AI dalam skala luas.

Fenomena ini memicu kekhawatiran tidak hanya di kalangan gamer, tetapi juga pembuat kebijakan.

Dengan game AAA kini menjadi salah satu sektor industri kreatif paling besar, pengaruh AI dianggap semakin perlu diawasi.

Black Ops 7 Tetap Panen Kritik

Selain isu AI, kampanye dan konten Black Ops 7 secara keseluruhan juga menerima sambutan negatif dari banyak pemain.

Eurogamer memberi penilaian bahwa seri ini terasa paling tidak seimbang dalam beberapa dekade, terutama karena bergesernya fokus dari mode single-player.

Kontroversi penggunaan AI kini hanya menambah daftar panjang masalah yang membuat Black Ops 7 menjadi salah satu rilis paling diperdebatkan tahun ini.

Baca juga: 5 Hal Ini yang Bikin Pemain Solo Call of Duty: Black Ops 7 Ngerasa Kaget dengan Pembaharuannya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Eurogamer.net

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU