Desainer Halo Kecam Penggunaan Citra AI Halo oleh Pemerintahan Trump: “Sungguh Menjijikkan dan Tidak Pantas”
INDOZONE.ID - Kontroversi besar sedang melanda dunia game setelah pemerintahan Trump menggunakan citra AI dari game Halo untuk mempromosikan kampanye politiknya.
Penggunaan visual ikonik dari seri legendaris tersebut untuk mendukung pesan politik — terutama yang berkaitan dengan penahanan imigran oleh ICE (Immigration and Customs Enforcement) menuai kecaman keras dari para pencipta asli Halo.
Baca juga: Kecam Invasi ke Ukraina, EA Sports akan Hapus Timnas dan Klub Rusia di FIFA 22
Desainer Halo: “Harusnya Menyinggung Semua Penggemar, Terlepas dari Pandangan Politik”
Jaime Griesemer, salah satu desainer utama di Bungie yang terlibat dalam pengembangan seluruh seri Halo hingga Halo: Reach, menyampaikan kritik keras terhadap tindakan tersebut dalam wawancara dengan Game File.
“Menggunakan citra Halo dalam seruan untuk ‘menghancurkan’ orang lain berdasarkan status imigrasi mereka benar-benar melewati batas,” ujar Griesemer.
“Hal ini seharusnya menyinggung setiap penggemar Halo, apa pun orientasi politik mereka. Secara pribadi, aku menganggapnya menjijikkan.”
Ia juga menegaskan bahwa musuh “The Flood” dalam Halo adalah makhluk fiksi berupa parasit luar angkasa, bukan alegori terhadap kelompok manusia mana pun.
Dengan kata lain, memanipulasi pesan visual dari Halo untuk kepentingan politik adalah tindakan yang sangat tidak pantas.
Citra Halo Dipakai untuk Promosi ICE
Kontroversi ini berawal dari gambar yang diunggah oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS).
Dalam unggahan tersebut, terlihat dua prajurit Spartan — karakter ikonik dari Halo mengendarai Warthog di dunia cincin Halo dengan tulisan besar “Destroy the Flood”, disertai ajakan untuk bergabung dengan ICE.
Pesan visual itu secara eksplisit menggambarkan “pemusnahan musuh” dan dianggap sebagai bentuk propaganda yang menyamakan imigran ilegal dengan musuh berbahaya, menimbulkan kemarahan publik dan komunitas gamer.
Marcus Lehto: “Melihat Halo Diperalat Seperti Ini Membuatku Mual”
Kecaman juga datang dari Marcus Lehto, co-creator Halo sekaligus desainer karakter legendaris Master Chief.
Dalam pernyataannya kepada Game File, Lehto menyebut tindakan pemerintah AS tersebut sebagai hal yang membuatnya muak.
Ia juga menyebut gambar yang mengaitkan Flood dengan pesan politik itu “benar-benar menjijikkan dan tidak pantas.
Lehto menambahkan bahwa Halo sejak awal diciptakan sebagai kisah heroik tentang keberanian dan persatuan umat manusia menghadapi ancaman alien, bukan sebagai simbol propaganda politik atau kekerasan terhadap sesama manusia.
Kontroversi Dipicu oleh Gelombang Citra AI
Menariknya, perdebatan soal Halo ini muncul hanya beberapa hari setelah remake kampanye Halo 1 dirilis dan memicu reaksi campuran dari para penggemar serta penciptanya.
Peluncuran remake tersebut juga disebut-sebut menjadi pemicu munculnya banyak gambar AI bertema Halo yang kemudian dimanfaatkan oleh tim media pemerintahan Trump untuk propaganda visual.
Microsoft dan Nintendo Pilih Diam
Hingga saat ini, Microsoft selaku pemilik hak cipta Halo belum memberikan komentar resmi terkait penggunaan IP mereka oleh pemerintah.
Keheningan ini dianggap berbicara banyak, terutama karena sebelumnya Nintendo juga tidak mengambil tindakan saat karakter Pokémon digunakan oleh pihak yang sama untuk kepentingan politik.
Diamnya dua perusahaan besar ini membuat banyak pihak khawatir bahwa praktik penyalahgunaan aset game populer untuk propaganda politik akan terus berlanjut.
Bahkan, laporan terbaru menyebut bahwa franchise The Lord of the Rings kini juga ikut diseret dalam strategi serupa.
Penggunaan citra ikonik dari video game populer seperti Halo untuk kepentingan politik jelas memunculkan perdebatan etika yang serius.
Para kreator asli menegaskan bahwa dunia fiksi tidak boleh dipelintir untuk membenarkan kebijakan diskriminatif atau tindakan represif terhadap kelompok tertentu.
Sebagaimana dikatakan Jaime Griesemer, “The Flood adalah makhluk fiksi — bukan simbol untuk manusia mana pun.”
Pesan ini menegaskan kembali bahwa game adalah karya seni dan hiburan, bukan alat propaganda politik.
Baca juga: Mark Zuckerberg Kecam Perubahan Privasi Baru dari Apple, Sebut Akan Melawan!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net