Selasa, 14 OKTOBER 2025 • 14:00 WIB

Dari Land of Dawn ke Woking: ONIC Esports dan Ambisi Jadi 'McLaren' MPL Indonesia

Author

Ilustrasi ONIC Esports ingin menjadi "McLaren F1 Team" Versi Mobile Legends. (sumber: dok. pribadi)

INDOZONE.ID - Di dua dunia yang berbeda, sebuah narasi paralel yang menarik tengah terbentuk. Di satu sisi, ada ONIC Esports, sang Landak Kuning, yang kembali menunjukkan taringnya di puncak klasemen sementara MPL Indonesia (MPL ID) Season 16. Di sisi lain, ada McLaren F1 Team, raksasa oranye yang baru saja mengunci gelar World Constructor Championship (WCC) atau Juara Dunia Konstruktor di Formula 1.

Performa ONIC yang superior musim ini, dengan 13 match point yang solid, tak pelak memunculkan pertanyaan ambisius. Mampukah sang Landak Kuning meniru jejak dominasi McLaren dan mengakhiri musim dengan trofi di tangan?

Dominasi Landak Kuning: 12 Win Streak dan Sebuah Batu Sandungan

Musim ke-16 MPL Indonesia seolah menjadi panggung pembuktian bagi ONIC Esports. Mereka tidak hanya menang, mereka mendominasi. Tim yang digawangi oleh Kairi dan kawan-kawan ini berhasil mencatatkan 12 kemenangan beruntun, sebuah rekor yang menunjukkan konsistensi dan adaptasi meta yang nyaris sempurna. Lawan demi lawan mereka taklukkan dengan strategi yang solid dan eksekusi mekanik tingkat tinggi.

Namun, seperti judul lagu Peterpan, tak ada yang abadi. Rentetan kemenangan fantastis itu akhirnya harus terhenti di tangan Bigetron by Vitality. Kekalahan telak 2-0 dari sang Robot Merah menjadi pengingat keras bahwa di level tertinggi, sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Momen ini menjadi krusial. Tim-tim hebat tidak diukur dari seberapa jarang mereka jatuh, tetapi seberapa cepat mereka bisa bangkit.

ONIC menjawab keraguan itu dengan cepat. Sehari setelah kekalahan menyakitkan tersebut, mereka langsung tancap gas dan berhasil menaklukkan rival abadi, EVOS Esports. Kemenangan ini bukan hanya membawa pulang poin, melainkan sebuah pernyataan mentalitas juara. Kini, dengan tatapan tajam, Kairi dkk bersiap menghadapi laga berikutnya melawan Dewa United Esports.

Baca juga: ONIC ID Bungkam Mythic SEAL 3-0 di Perempat Final MSC x EWC 2025, Tantang Sang Rival Team Liquid PH di Semifinal

Cermin di Dunia Jet Darat: Puncak Kejayaan dan Momen Apes McLaren

Untuk memahami potensi ONIC, kita bisa berkaca pada perjalanan McLaren F1 Team musim ini. Tim yang berbasis di Woking, Inggris, ini berhasil mengunci gelar Juara Dunia Konstruktor untuk kedua kalinya secara beruntun. Kepastian ini didapat setelah pembalap andalan mereka, Lando Norris, berhasil naik podium di Grand Prix Singapura beberapa waktu lalu.

Keberhasilan McLaren bukanlah hasil kerja semalam. Hal ini tentu buah dari konsistensi, strategi pit stop yang cerdas, pengembangan mobil yang progresif, dan tentu saja performa gemilang dari kedua pembalap mereka, Lando Norris dan Oscar Piastri. Mereka secara kolektif mengumpulkan poin demi poin, balapan demi balapan, hingga tak terkejar oleh para rivalnya.

Namun, perjalanan mereka juga tidak selamanya mulus. Tengok saja nasib apes yang menimpa Oscar Piastri di Grand Prix Azerbaijan. Saat itu, Piastri yang tengah memimpin klasemen sementara pembalap harus menelan pil pahit. Ia mengalami DNF atau gagal finis setelah menabrak tembok di lap pertama. Insiden tersebut menunjukkan betapa tipisnya batas antara kemenangan dan kegagalan di level elit.

Paralel Dua Dunia: Bisakah ONIC Menjadi "McLaren" Versi Land of Dawn?

Di sinilah benang merah antara ONIC Esports dan McLaren menjadi sangat jelas. Keduanya menunjukkan karakteristik yang sama sebagai tim penantang gelar juara sejati.

ONIC dengan 12 kemenangan beruntun dan McLaren yang konsisten meraih kemenangan dan poin di hampir setiap balapan adalah bukti nyata bahwa fondasi utama untuk menjadi juara adalah konsistensi.

Kekalahan ONIC dari Bigetron by Vitality bisa disamakan dengan momen DNF Piastri di Azerbaijan. Keduanya adalah sebuah kemunduran. Namun, yang terpenting adalah bagaimana mereka merespons. ONIC langsung menang atas EVOS, sementara McLaren terus fokus dan akhirnya mengamankan gelar konstruktor. Kemampuan untuk segera move on dan kembali fokus adalah ciri khas juara.

Baca juga: MPL ID Season 16 Bergulir, Onic Hadir dengan Roster Baru

Baik ONIC maupun McLaren sama-sama merasakan tekanan berada di puncak. Setiap lawan akan bermain ekstra termotivasi untuk mengalahkan mereka. Setiap kesalahan kecil akan disorot lebih tajam. Mengelola tekanan ini adalah ujian terakhir menuju tahta.

Perjalanan ONIC Esports di MPL ID Season 16 masih panjang. Babak playoff yang terkenal dengan format best-of-series yang brutal akan menjadi ujian sesungguhnya. Namun, melihat performa mereka sejauh ini, mimpi untuk melihat Landak Kuning mengangkat piala, layaknya para kru McLaren yang merayakan gelar konstruktor, bukanlah hal yang mustahil.

Pertanyaannya kini bukan lagi, "apakah mereka bisa?", melainkan "apakah mereka akan mampu mempertahankan momentum ini hingga akhir?"

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU