INDOZONE.ID - Apakah kamu masih ingat pertama kali melihat pemandangan luas Liurnia of the Lakes di Elden Ring? Bagi banyak gamer, momen itu menjadi titik ketika mereka benar-benar merasakan skala epik dunia buatan FromSoftware.
Dan kini pengalaman serupa muncul kembali lewat Sword of the Sea, game terbaru garapan studio Giant Squid milik Matt Nava, sosok di balik karya legendaris Journey.
Dalam Journey, kamu diajak menyusuri gurun emas dengan nuansa penuh seni.
Kemudian Nava membawa imajinasi itu ke lautan dalam Abzû dan hutan mistis lewat The Pathless.
Kini, melalui Sword of the Sea, ia kembali mengeksplorasi lanskap gurun, tetapi dengan sentuhan baru yang lebih hidup.
Gurun yang kamu jelajahi seolah bergerak seperti samudra, sementara kamu meluncur di atas hoverboard, melakukan trik udara dari setiap ombak pasir yang beriak.
Baca juga: Sword of the Sea Curi Perhatian, Berpetualang Seru Main Skateboard, Surfing, dan Zelda
Menghidupkan Konsep "Katedral Api" dalam Game
Penulis Steven Poole pernah menyebut video game sebagai cathedrals of fire, katedral api yang dibangun dari cahaya tak berwujud, memancarkan rasa takjub pada pemainnya.
Dan istilah itu sangat pas menggambarkan Sword of the Sea.
Dengan lanskap luas penuh pasir berkilau, rantai logam raksasa untuk digrind, hingga bangunan kuno tempat papanmu beradu menghasilkan suara khas, game ini adalah perpaduan antara keindahan visual dan sensasi kecepatan.
Bagi Nava, keajaiban ini sama seperti saat ia berseluncur di pegunungan bersalju: cepat, memukau, namun singkat sekaligus abadi dalam ingatan.
Visual Fantastis yang Dibangun dengan Detail Teknis
Keindahan Sword of the Sea tak hanya berasal dari desain artistik, tetapi juga kecanggihan teknologi.
Tim kecil berisi 20 orang ini berhasil menampilkan dunia penuh efek visual menawan, terutama lewat penggunaan shader.
Shader inilah yang membuat gurun beriak seperti ombak, air terlihat transparan berwarna biru kehijauan, hingga pasir yang selalu bergerak dinamis.
Semua detail ini diperbarui hingga 60 kali per detik, menciptakan sensasi nyata seolah kamu benar-benar meluncur di dunia fantasi yang hidup.
Warisan Seni yang Mengalir dalam Darah Matt Nava
Tak heran jika Sword of the Sea begitu sarat dengan nuansa artistik.
Ayah Matt Nava, John Nava, adalah seorang pelukis terkenal yang pernah belajar di Florence dan menghasilkan karya besar seperti tapestry di Cathedral of Our Lady of the Angels di Los Angeles.
Sejak kecil, Nava sudah diajak mengunjungi museum, basilika, dan karya seni klasik yang penuh aura kagum.
Pengaruh inilah yang kini tertuang dalam setiap karya gamenya: permukaan, cahaya, dan lanskap virtual yang seakan bergetar dengan rasa kagum.
Pengalaman Spiritual dalam Bentuk Video Game
Bagi Nava, bermain game bisa menyamai pengalaman spiritual di dunia nyata: berada di alam, merasakan angin, cahaya, dan lingkungan yang berinteraksi langsung denganmu.
Itulah yang dia ingin hadirkan dalam Sword of the Sea — sebuah pengalaman visual penuh rasa takjub, di mana semakin cepat kamu meluncur, semakin dalam pula rasa kagum yang muncul.
Dengan desain menawan, mekanik unik, dan atmosfer yang memikat, Sword of the Sea membuktikan bahwa video game bukan sekadar hiburan, melainkan medium seni yang mampu membangkitkan keajaiban, bahkan menyamai “katedral api” yang disebutkan Poole.
Sword of the Sea bukan hanya sekadar game petualangan, tetapi juga sebuah karya seni interaktif yang menawarkan perpaduan visual, musik, dan gameplay yang memukau.
Jika kamu mencari pengalaman bermain yang penuh rasa kagum dan keindahan, game ini wajib ada di daftar tunggu kamu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net