INDOZONE.ID - Virtuos, studio game yang tahun ini mencuri perhatian lewat kesuksesan Oblivion Remastered, dikabarkan tengah mengalami restrukturisasi besar-besaran yang berdampak pada ratusan karyawan.
Meski proyek Oblivion Remastered menjadi salah satu rilisan paling menonjol di 2025, nyatanya tekanan industri tetap menghantam studio ini.
Baca juga: Publisher Ramai-ramai Selamatkan Game Studio John Romero Sebelum Tutup, Udah Join Belum?
Restrukturisasi Global: 300 Karyawan Terkena Dampak
Dalam konfirmasi yang diberikan Virtuos kepada Eurogamer, pihak studio menyebutkan bahwa sekitar 7% dari total karyawan mereka terdampak, atau setara dengan 300 posisi yang diberhentikan.
Angka ini mencakup sekitar 200 orang di Asia, serta 70 posisi di Eropa, meskipun tim utama pengembang Oblivion Remastered yang berbasis di Prancis hanya sedikit terdampak.
"PHK ini terutama menyasar tim-tim dengan tingkat aktivitas rendah akibat pergeseran struktural dalam industri," ungkap juru bicara Virtuos.
Komitmen Masih Terjaga, Meski Ada Gejolak
Meskipun terjadi pemangkasan besar, Virtuos menegaskan bahwa mereka tetap berkomitmen terhadap proyek-proyek penting seperti Oblivion Remastered, pembaruan Cyberpunk 2077, hingga Metal Gear Solid Delta: Snake Eater.
Pihak studio juga mengaku sedang berfokus menangani masa transisi ini dengan penuh transparansi, empati, dan penghargaan terhadap kontribusi karyawan.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Virtuos menawarkan paket pesangon, bantuan transisi karier, dan kemungkinan relokasi ke proyek lain di jaringan global mereka.
Proyek Ambisius yang Tak Sepenuhnya Menguntungkan?
Laporan dari Gauthier Andres, jurnalis asal Prancis, mengungkap fakta mengejutkan: Oblivion Remastered dikembangkan tanpa kontrak bonus berbasis performa.
Artinya, meskipun game ini sukses secara kualitas, tak ada insentif tambahan untuk tim.
"Virtuos benar-benar all-out demi kualitas, tapi hasilnya justru membebani tim," tulis Andres lewat platform BlueSky.
Bahkan sejak Februari lalu, perusahaan disebut telah membekukan kenaikan gaji dan memangkas bonus, memicu kekhawatiran dari para pegawai dan memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan PHK.
Serikat dan Pemogokan: Perlawanan dari Dalam
Situasi ini memicu aksi mogok kerja di kantor Virtuos Lyon. Aksi ini bertujuan untuk menolak PHK dan menjaga keberlangsungan studio di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, Andres juga menyoroti bahwa Virtuos mulai beralih ke teknologi AI generatif. Dalam satu tahun terakhir, penggunaan AI berkembang pesat di internal perusahaan, bahkan menjadi pelatihan wajib bagi karyawan.
Dunia Game Kembali Diterpa Gelombang PHK
PHK di Virtuos bukanlah kasus terisolasi. Industri game global terus mengalami gejolak, dengan banyak studio besar melakukan pemangkasan.
Microsoft, misalnya, baru-baru ini memangkas lebih dari 9.000 posisi, mengakibatkan pembatalan proyek dan penutupan beberapa studio.
Kabar ini jadi pengingat bahwa bahkan kesuksesan besar seperti Oblivion Remastered tak selalu menjamin stabilitas.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan industri game, kondisi Virtuos memperlihatkan tantangan nyata yang dihadapi para pengembang—baik dari sisi bisnis maupun tekanan internal.
Di tengah inovasi dan transisi teknologi seperti AI, nasib para kreator game kini makin sulit diprediksi.
Baca juga: Mantan Desainer Uncharted dan The Last of Us Dirikan Studio Game Baru di Jepang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net