INDOZONE.ID - Siapa sangka, sebelum semua kegagalan dan penyesalan, Anthem pernah menjadi bintang harapan di dunia game.
Game besutan BioWare ini sempat membuat banyak gamer terpukau ketika pertama kali diperkenalkan.
Saat itu, Anthem bukanlah Mass Effect atau Dragon Age—dua waralaba andalan BioWare melainkan proyek baru yang terlihat begitu menjanjikan.
Sebuah IP orisinal dengan tampilan visual dan konsep gameplay yang terasa seperti lompatan besar menuju masa depan industri game.
Baca juga: Anthem Resmi Ditutup Januari 2026: BioWare Matikan Server Tanpa PHK
Momen Bersejarah di Panggung E3 2017
Kita kembali ke E3 2017—masa sebelum pandemi, ketika E3 masih dipenuhi gemerlap lampu, presentasi bombastis, dan bujet marketing raksasa.
Di atas panggung utama milik Microsoft, diumumkanlah Anthem sebagai penutup acara. Patrick Soderlund, petinggi EA kala itu, naik ke panggung dengan pernyataan yang penuh semangat.
“IP baru adalah nyawa industri ini,” katanya, menggarisbawahi betapa penting dan berisikonya menciptakan game dari nol.
Tapi menurutnya, risiko itu sepadan jika hasilnya mampu memperkenalkan dunia baru yang imersif bagi para pemain.
Soderlund menyebut Anthem sebagai dunia terbuka yang subur, liar, misterius, dan terus berubah, serta menjanjikan pengalaman bermain bersama teman yang akan bertahan selama bertahun-tahun—kalimat yang mungkin kini terdengar seperti ironi.
Trailer Pengungkap yang Bikin Dunia Terkesima
Ketika Jon Warner, direktur game Anthem, mengambil alih panggung, penonton menyaksikan salah satu presentasi paling memikat sepanjang sejarah E3.
Mulai dari adegan karakter membuka kain tipis untuk mengungkap pasar yang terang benderang, sinar matahari padang pasir yang menembus celah atap, hingga interaksi yang terasa nyata dengan NPC—semuanya tampil dengan kualitas visual yang luar biasa detail.
Yang paling mengesankan adalah saat sang karakter mengenakan exosuit bernama Javelin. Animasi detail saat kaki demi kaki masuk ke dalam kostum mecha itu terlihat seperti mimpi basah para gamer sci-fi.
Belum lagi adegan ketika pemain terjun dari tebing dan meluncur bebas ke hutan lebat di bawah—dengan tanaman, makhluk aneh, dan bahkan monster raksasa yang muncul dramatis di tengah pertempuran.
Dan ya, bahkan bagian tembak-menembaknya terlihat solid, penuh efek ledakan dan kekuatan spesial yang memikat. Tak heran jika para penonton saat itu bisa melupakan skrip obrolan “teman online” yang terlalu sempurna khas demo E3.
Janji yang Terasa Nyata—Saat Itu
Presentasi Anthem di E3 saat itu berhasil membuat para gamer percaya. Meski kini kita tahu betapa tidak akuratnya demo tersebut terhadap gameplay sebenarnya, semua itu tidak terlalu dipermasalahkan kala itu.
Tujuan utamanya bukan menampilkan realita, melainkan menanamkan mimpi. EA dan BioWare menginginkan kepercayaanmu, bukan skeptisisme.
Mereka ingin kamu jatuh cinta pada visi mereka dan untuk sesaat, mereka berhasil. Bahkan hingga hari ini, trailer pengungkap Anthem masih tampak memukau.
Jika kamu memutarnya kembali di event modern seperti State of Play atau Xbox Direct, ia masih bisa membuat kagum.
Ironisnya, justru daya pikat inilah yang memperbesar rasa kecewa saat akhirnya game ini gagal memenuhi ekspektasi.
Sebuah Pengingat tentang Ekspektasi dan Realita
Kisah Anthem adalah pelajaran berharga tentang bagaimana hype bisa membentuk persepsi, dan bagaimana industri game sering kali menjual mimpi sebelum memastikan mimpi itu layak diwujudkan.
Tapi tetap saja, kita tidak bisa menyangkal bahwa untuk sesaat—di tengah sorotan panggung E3 2017—Anthem pernah menjadi simbol masa depan yang begitu indah dan penuh kemungkinan.
Dan mungkin, kenangan tentang momen itu akan selalu mengingatkan kita: bahwa dalam dunia game, bahkan kegagalan terbesar pun pernah dimulai dari harapan yang luar biasa besar.
Baca juga: ANTHEM#9: Petualangan Roguelite Deckbuilder Baru Segera Hadir di PC
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net