INDOZONE.ID - Di kalangan pengguna gadget tanah air, nama Unisoc kerap dipandang sebelah mata dan dianggap hanya cocok untuk ponsel kelas entri (low-end).
Namun, kehadiran Unisoc T7100 (atau yang juga dikenal di beberapa pasar sebagai bagian dari lini tangguh berbasis arsitektur core menengah), memicu perdebatan teknis mengenai batas kemampuan performa murninya.
Sebagai chipset yang dirancang untuk mengisi celah pasar performa esensial, Unisoc T7100 membawa konfigurasi arsitektur yang cukup mengejutkan di kelasnya.
Mari kita bedah secara blak-blakan raihan skor benchmark serta limitasi nyata hardware ini saat dipaksa bekerja keras.
Baca juga: Bocoran Spesifikasi Xiaomi 17T dan 17T Pro: Chipset Kelas Tinggi dan Baterai Jumbo
Unisoc T7100 dirancang untuk mengisi segmen pasar mid-to-low dengan fokus pada efisiensi daya dan performa harian yang stabil.
Chipset ini membawa arsitektur octa-core yang mengombinasikan core performa Cortex-A75 dan core efisiensi Cortex-A55.
Berdasarkan pengujian performa menggunakan aplikasi AnTuTu Benchmark v10, Unisoc T7100 secara mencetak skor total di kisaran 197.000
Raihan angka ini sudah sangat mumpuni untuk kelas harganya.
Baca juga: Bukan Cuma RAM Besar, Kenali Macam-macam Chipset HP agar Performa Ponsel Maksimal!
Unisoc T7100 vs Snapgragon 680
Jika kita menyandingkannya secara apple-to-apple dengan lini Qualcomm, performa murni Unisoc T7100 ini setara dengan Snapdragon 680.
Seri Snapdragon tersebut berada pada rentang skor AnTuTu yang sangat mirip.
Untuk melihat bagaimana kekuatan dari masing-masing pabrikan saat disandingkan secara apple-to-apple, berikut adalah 3 poin perbedaan krusial yang menentukan keunggulan fiturnya:
Arsitektur Komponen CPU
Unisoc T7100 mengandalkan konfigurasi octa-core yang menggabungkan dua core performa berbasis ARM Cortex-A75 (2.0 GHz) dan enam core efisiensi Cortex-A55 (1.8 GHz).
Baca juga: Unisoc Bukan Lagi Chipset 'Lemah': Simak Rahasia di Balik Dominasi
Di sisi lain, Snapdragon 680 memilih menggunakan formula empat core Kryo 265 Gold berbasis Cortex-A73 (2.4 GHz) dan empat core Kryo 265 Silver berbasis Cortex-A53 (1.8 GHz).
Di atas kertas, penggunaan arsitektur mikro Cortex-A75 pada Unisoc memberikan keunggulan murni pada pemrosesan CPU yang jauh lebih modern dan responsif jika dibandingkan dengan Cortex-A73 milik Snapdragon.
Ukuran Teknologi Fabrikasi
Qualcomm membalas telak di sektor efisiensi daya dengan menyematkan teknologi manufaktur fabrikasi 6 nanometer (nm) pada Snapdragon 680.
Angka ini jauh lebih unggul dibandingkan Unisoc T7100 yang masih diproduksi dengan arsitektur 12 nanometer (nm) yang lebih konvensional.
Perbedaan ukuran node semikonduktor yang cukup jauh ini secara klinis menjamin Snapdragon 680 memiliki tingkat konsumsi daya baterai harian yang jauh lebih irit dan efisien dibandingkan Unisoc.
Kekuatan Kartu Grafis (GPU)
Di sektor pemrosesan grafis, persaingan kembali berjalan sengit antara Mali-G52 MC2 milik Unisoc dan Adreno 610 milik Qualcomm.
Secara raw power, Mali-G52 memiliki kemampuan merender objek 3D yang sedikit lebih bertenaga untuk mengolah grafis tiga dimensi.
Kendati demikian, Adreno 610 diuntungkan oleh ekosistem optimasi developer game yang sangat matang, sehingga mampu menyajikan stabilitas frame rate (FPS) yang lebih konsisten pada game komersial populer seperti Mobile Legends: Bang Bang.
Unisoc T7100 VS MediaTek Helio P90
Sementara jika beralih ke kubu MediaTek, kekuatan Unisoc T7100 ini berada dekan dengan MediaTek Helio P90.
Untuk melihat bagaimana kekuatan dari masing-masing pabrikan saat disandingkan secara apple-to-apple, berikut adalah 3 poin perbedaan krusial yang menentukan keunggulan fiturnya:
Arsitektur Komponen CPU
MediaTek Helio P90 mengandalkan konfigurasi octa-core dengan susunan dua core performa berbasis Cortex-A75 yang berjalan pada kecepatan tinggi hingga 2.2 GHz, ditambah enam core efisiensi Cortex-A55 berkecepatan 2.0 GHz.
Di sisi lain, Unisoc T7100 membawa arsitektur klaster yang serupa, yaitu dua core performa Cortex-A75 namun dengan clockspeed yang sedikit lebih rendah di angka 2.0 GHz, dikombinasikan dengan enam core efisiensi Cortex-A55 berkecepatan 1.8 GHz.
Keunggulan kecepatan clock yang lebih tinggi ini secara naratif membuat Helio P90 sedikit lebih sigap dalam mengeksekusi instruksi tunggal (Single-Core task) saat membuka aplikasi berat.
Ukuran Teknologi Fabrikasi
Dalam hal proses manufaktur, MediaTek Helio P90 diproduksi menggunakan teknologi fabrikasi 12 nanometer (nm) FinFET oleh pabrikan TSMC yang sudah sangat matang di industri semikonduktor.
Langkah yang sama juga diambil oleh Unisoc T7100, di mana seri ini mengadopsi ukuran teknologi manufaktur 12 nanometer (nm) FinFET serupa untuk mengontrol biaya produksi massal perangkat.
Karena berada pada ukuran node semikonduktor yang setara, efisiensi konsumsi daya baterai harian yang ditawarkan oleh kedua chipset ini relatif seimbang dan berada di standar kelas menengah bawah yang sama.
Kekuatan Kartu Grafis (GPU)
Untuk urusan visual, MediaTek Helio P90 memilih menggunakan kartu grafis PowerVR GM9446 yang dikenal sangat andal dalam menjaga stabilitas rendering visual antarmuka sistem operasi.
Sementara itu, Unisoc T7100 lebih mempercayai GPU besutan ARM, yaitu Mali-G52 MC2 yang terkenal memiliki retensi raw power yang solid untuk mengolah grafis tiga dimensi.
Dalam pengujian grafis game modern, GPU Mali-G52 milik Unisoc T7100 cenderung lebih diuntungkan karena memiliki kompatibilitas dan optimasi driver game yang lebih luas, sehingga terasa sedikit lebih stabil dalam mempertahankan frame rate (FPS).
Unisoc T7100 vs Dimensity 700
Sementara jika beralih ke kubu Dimensity, kekuatan Unisoc T7100 ini berada dekat dengan Dimensity 700.
Untuk melihat bagaimana kekuatan dari masing-masing pabrikan saat disandingkan secara apple-to-apple, berikut adalah 3 poin perbedaan krusial yang menentukan keunggulan fiturnya:
Arsitektur Komponen CPU
MediaTek Dimensity 700 mengandalkan konfigurasi octa-core yang tangguh dengan susunan dua core performa berbasis ARM Cortex-A76 yang berjalan pada kecepatan tinggi hingga 2.2 GHz, ditambah enam core efisiensi Cortex-A55 berkecepatan 2.0 GHz.
Di sisi lain, Unisoc T7100 membawa arsitektur klaster generasi di bawahnya, yaitu dua core performa Cortex-A75 (2.0 GHz) yang dikombinasikan dengan enam core efisiensi Cortex-A55 berkecepatan 1.8 GHz.
Keunggulan penggunaan core Cortex-A76 yang lebih modern secara naratif membuat Dimensity 700 jauh lebih responsif dan kuat dalam menangani beban kerja berat.
Ukuran Teknologi Fabrikasi
Dalam hal efisiensi daya, MediaTek Dimensity 700 melesat unggul berkat penggunaan teknologi manufaktur 7 nanometer (nm) FinFET besutan TSMC yang sangat efisien.
Langkah ini berbanding terbalik dengan Unisoc T7100 yang masih diproduksi di atas basis ukuran teknologi 12 nanometer (nm) FinFET.
Perbedaan ukuran node semikonduktor yang cukup jauh ini secara klinis menjamin Dimensity 700 memiliki tingkat konsumsi daya baterai harian yang jauh lebih irit dan efisien dibandingkan Unisoc.
Kekuatan Kartu Grafis (GPU)
Di sektor pemrosesan visual dan grafis tiga dimensi, MediaTek Dimensity 700 dibekali dengan GPU Mali-G57 MC2 yang berjalan pada kecepatan tinggi.
Di kubu penantang, Unisoc T7100 masih memakai kartu grafis generasi sebelumnya, yaitu Mali-G52 MC2.
Dalam pengujian rendering objek 3D dan game komersial, arsitektur Mali-G57 milik Dimensity 700 menawarkan kerapatan visual dan stabilitas frame rate (FPS) yang jauh lebih mulus serta superior.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Versus.com, Antutu.com